Latest Post

Konsep alternatif dalam optimlisasi Mahasiswa Lulusan LN di Papua



(Zittau 29/05/2019) Pemberian Beasiswa Program 1000 Ph.D yang dicanangkan oleh Pemprov Papua yang sekarang dikelolah oleh Biro Otsus Papua dimulai pada tahun 2009 yang diprakarsai oleh Gubernur Barnabas Suebu sudah mulai menghasilkan buah. Di tahun itu angkatan pertama diseleksi dan dipersiapan pengetahuan sains dasarnya di jakarta di bawah naungan Prof. Yohanes Surya Ph.D. Disana para penerima beasiswa ini menimbah ilmu dibawah naungan Surya Institute yang dikemudian hari berubah nama menjadi Surya University. Para calon mahasiswa ini setelah menyelesaikan Ujian Nasionalnya ditingkat SMA, mereka sesudah melalui berbagai test akan dikirim ke berbagai Negara dan tersebar luar di empat benua, Eropa, Amerika, Australia dan Asia timur.

Program ini berlanjut hingga sekarang dan setiap tahunnya menghasill banyak sekali insinyur muda Papua yang bekerja di berbagai Negara dan Institut penelitian di negara-negara barat. Bahkan sebagian menerima tawaran untuk bekerja di berbagai perusahan-persahan yang beroperasi didalam Negeri dan ditempatkan diberbagai Posisi.
Sejak Program ini dijalankan, banyak hambatan dan tantangan yang didapat oleh pemberi dan penerima beasiswa. Dari sisi pemberi Beasiswa, menurut pejabat berwenang yang baru terpilih, bahwa selama ini program ini berjalan secara amburadul karena road mapnya tidak gamblang. Sebagai conton dia memaparkan antara lain bahwa daftar penerima beasiswa yang belum teratur dan belum mempunyai manajement kontrol yang baik terhadap kondisi perkembangan studi para penerima Beasiswa tersebut. Untuk itu tambahnya, pihaknya selama ini mencoba untuk memperbaiki hal-hal signifikan tersebut melalui pendekatan-pendakatan yang terbentuk dari beberapa terobosan-terobosan dalam manajemen pengelolaan beasiswa ini.

Dalam beberapa tahun terakhir banyak kunjungan  juga yang dilakukan oleh pihak pemberi beasiswa dalam rangka kontrolling kondisi mahasiwa di berbagai negara. dalam Audiensi dan diskusi yang dibuka dalam kunjungan-kunjungan itu, banyak mahasiswa yang juga menanyakan perihal apa yang akan dilakukan pemerintah Provinsi papua sebagai pemberi beasiswa dalam mempersiapkan para lulusan LN ini ketika kembali ke tanah air. Pertanyaan ini menjadi penting karena menurut mereka, dengan ilmu dalam bidang yang telah mereka resapi teorinya, mereka ingin berusaha membantu pemerintah dan masyarakat Papua dalam mengembangkan sektor-sektor potensial yang ada di Papua.

Didalam Audiensi-Audiensi yang sama ada beberapa mahasiswa yang memberi masukan-masukan dalam menyikapai kepulangan Mahasiswa Papua lulusan LN sebagai konsep alternatif dalam meminimalisir pengganguran jangka panjang yang diantara sebagai berikut.

1. Pemerintah Provinsi Papua dengan kapasitasnya sebagai pemberi beasiswa paling tidak dapat menyiapkan tempat untuk para insinyur muda ini, dengan jalan membuka sebuah pusat Ilmu pengetahuan alam multi disiplin yang dimotori oleh berbagai peneliti senior LN. Melalui Lemabaga ini mahasiswa/i Papua yang masuk dalam kualifikasi yang sudah ditentukan dijadikan asisten-asisten dalam berbagai proyek penelitian yang dicangkan.

2. Memberi para lulusan Luar Negeri ini peluang untuk menimbah ilmu pada setiap proyek-proyek pemerintah dengan menjadikan mereka sebagai asisten-asisten pengawas dari SKPD terkait dalam perkembangan proyek tersebut. Dengan harapan pada proyek pemerintah selanjutnya mereka bila perlu dijadikan eksekutor dalam proyek-proyek tersebut.

3. Pemerintah mendirikan berbagai sekolah Vokasi dalam berbagai bidang dengan tujuan lulusan dari sekolah vokasi menerima lisensi untuk dipekerjakan dalam berbagai bidang. Misalnya pertanian, perikanan, perkebunan atau listrik. Disini para lulusan LN ini dijadikan sebagai Asisten Pengajar didalamnya.

4. Mendirikan BUMD dalam berbagai sektor basis yang didalam mengakomondasi kebutuhan dasar masyarakat Papua. Dalam perekrutannya karyawan, para lulusan LN ini mempunyai kesempatan untuk bekerja disana. Dengan begitu pengalaman mereka dalam berinovasi teknologi makin baik dan dengan pengalaman ini peluang mereka untuk berwiraswasta makin luas.

Empat hal diatas ini harapannya bisa menjadi solusi altenatif dalam optimalisasi SDM Papua kedepan. dengan begitu tuntuntan Pemerintah Provinsi Papua yang memberi harapan besar kepada para penerima lulusan luar negeri untuk dapat bekerja di perusahan ternama di dalam dan maupun diluar negeri dapat terjawab.
Harus juga dimengerti bahwa dalam melamar kerja, pengalaman selalu menjadi nilai tambah dalam lamaran (CV) yang dikirimkan perusahan-perusahan. Oleh karena itu dalam hal ini baik itu penerima maupaun pemberi beasiswa juga harus rasional dalam berpikir dan bermimpi kedepan. (Gusti)


 

West Papua, vergessene Konflikte

Herzlich willkommen auf arte zu einer neuen Ausgabe von mit OFFENEN KARTEN

Was wissen Sie über die Papua?


Benny Wenda und Kampagne Free West Papua in London


Auf diesem Foto sehen Sie aus West-Neuguinea, die ihre Unabhängigkeit fordern. Zu erkennen ist, dass der Flagge der Separatisten, die seit 1963 unter der Fluchte Indonesiens leben. Das gilt nicht für das benachbarten Papua Neuguniea, dass ein unabhängiger Staat ist. Bekannt sind die Papua für ihre traditionelle Bekleidung und ihrem Kampf gegen die Vernichtung des Urwaldes weniger bekannt ist der Papua aus West Neuguniea. Si lehnen sich seit über 50 Jahren so gut, sie können gegen den militärischen, wirtschaftlichen und kulturellen Einfluss der indonesischen Staatmacht auf. Ein Bericht aus einem zerrissenen Land. Das zwischen Asien und Australien liegende West Neuguinea gehört zum Neuguinea, der nach Grünland zweitgrößten Insel der Erde. Sie ist mit 800.000 km2 mehr als doppelt so groß wie Deutschland und durch den 141 Längengrad in zwei Teile geteilt. Den östlichen Teil nimmt Papua Neuguniea ein, dass seine Unabhängigkeit von Australien 1975 erlangte. Der westliche Teil gehört wie gesagt seit 1963 zu Indonesien. Mit 10 Einwohner pro km2 hat die West Neuguniea die gerieste Bevölkerungsdichte des Landes. Auf 420.000 km2 leben 4 Millionen Menschen. Damit leben dort 1,7 % der indonesischen Bevölkerung auf einem Viertel des Staatgebietes und die Region verfügt überreiche Vorkommen an Holz, denn die Insel ist von dichtem Regenwald bedeckt, Ein Arzte vor allem an Kupfer, Gold, Silber und Nickel sowie an Erdöl und Erdgas in den Küstengebieten. Die Papua, was auf Malaiisch so viel kraus haarig bedeutet, wanderten vor 40.000 Jahren   aus Südostasien und Australien ein. Sie bilden hunderte von ethnischen Gruppen mit über 1000 Sprachen und an der Küste ließen sich vor etwa 3000 Jahren austronesischen Volksgruppen aus dem heutigen Taiwan nieder. In 17. Jahrhundert geriet die Insel unter die Kontrolle der niederländischen Ost Indien Kompanie. 1858 wurde sie zwischen deutschen Reich Großbritannien und den Niederlanden aufgeteilt, kolonialisiert und christianisiert. 1949 wurde Indonesien unabhängig und die Niederlande zogen sich zurück außer aus niederländische Neuguniea, um Ihre Kolonie zu behalten, begünstigten sie die Indonesia. Die Papua Ihrerseits hofften auf Unabhängigkeit. Der Indonesische Präsident Sukarno jedoch wollte ein Indonesien von Sabang bis Merauke. Ende 1961 kam es zu einem kurzen bewaffneten Konflikt. Die Indonesien unterstützenden USA zwangen die Niederlande bei der UNO ein Abkommen zu unterzeichnen. Indonesien übernahm ohne die Papua zu Fragen 1963 das Gebiet und entsandte Beamte und Soldaten. Bei der nun folgenden brutalen Gleichschaltung starben 30.000 Menschen zwischen 1963 und 69. 100.000 Papua flohen ins benachbarte Papua Neuguniea. Dadurch bekam die Unabhängigkeitsbewegung Organisation für einen freien Papua Zulauf. 1969 wurde die im New Yorker Abkommen festgelegte Volksabstimmung durchgeführt. Aber auf Druck Indonesiens bestätigten die Stammführer den Status quo. Die Indonesische Herrschaft war völkerrechtlich besiegelt.  Indonesien begann das neue erworbene Gebiet umgehend wirtschaftlich auszubeuten. Die riesige Grasberg Mine, das größte Goldbergwerk und das drittgrößte Kupferbergwerk der Welt wird in einer sehr großen Höhe von US Unternehmen Freeport Mcmoran seit 1967 betrieben. 2015 war Freeport mit über 33.000 beschäftigten und zuliefern der größte Arbeitgeber der Region sowie der größte Steuerzahler des Indonesischen Staates. Der schließt dafür die Augen vor der Einleitung vor der Einleitung von giftigem Abraum in Flüsse und Böden der Zerstörung der biologischen Vielfalt im Lorenz Nationalpark dem zweitengrößten Asiens und der grassierende Wald rund um die Bergbaustadt Timika. Weiter westlich beutet BP ein offshore Erdgasvorkommen aus. Im gebiet in Merauke verwandelt ein Multinationaler Konzern seit 2010 eine Million Hektar Wald in Anbauflächen für Ölpalmen, Sojabohnen und Zuckerrohr. Die lokale Bevölkerung wird vertrieben. Seit 1980 wurde bereits ¼ des Gebiets entwaldet und mehr als die Hälfte befindet sich in einer kritischen Umweltsituation. So dann führte die Indonesische Regierung eine offensive Bevölkerungspolitik durch die sog. Transmigrasi. 1960 machten die Papua 95 % der lokalen Bevölkerung aus. Inzwischen sind sie nur noch 69 % und sogar nur noch 49 % in der Provinz West Papua. Zwischen 1970 und 2010 hatte man etwa 750.000 Menschen von den bevölkerungsreichsten Inseln wie Java, Sulawesi und den Molukken in die Küsten der Region umgesiedelt, um diese ins indonesische Staatsgebiet einzubinden. 2015 beendete Präsiden Widodo zwar diese Politik aber die individuelle Migration geht weiter. Die Mehrheit bilden die Papua nur noch in den Bergregionen im Zentrum. In den reicheren Großstädten auch in der Hauptstadt Jayapura, in denen es mehr Arbeit gibt, sind die meisten die Muslimischen Javaner in der Mehrheit. Die Papua wurden zunehmend wirtschaftlich und sozial ausgegrenzt. Zwischen 2010 und 2015 betrug des Wirtschaftswachstumes in der Region mehr als 4% das Bruttoinlandsprodukt pro Einwohner ist höher als im Landesdurchschnitt vor in der Provinz West Papua. Allerdings kommt das kaum den Papua zu gute. 28% leben unterhalb der Armutsgrenze. Im Landesdurchschnitt sind das 11 %. 46 % haben keinen elektrischen Strom gegenüber 2 % im Landesdurchschnitt. Der Index der menschlichen Entwicklung ist einer der niedrigsten des ganzen Landes. Im Regierungsbezirk Nduga ist sogar eine der niedrigsten der Welt. Schließlich ist die indonesische Politik gegenüber den Papua eine Mischung aus Unterdrückung wie in Osttimor und Aceh. Zwei weiteren separatistischen Gebieten missbrauchten die Arme die Spezialeinheit Kopassus ihren Auftrag der Aufstandsbekämpfung und es kann regelmäßig zu Massakern, Entführungen und Folter. Seit 1962 kamen 100.000 Menschen ums Leben. Allerdings verübt auch die OPM Anschläge aber in geringerem Ausmaß. 2013 kostete in Puncak Jaya der tödliche Anschlag seit 15 Jahren acht indonesische Soldaten das Leben. Die Arme kontrolliert als stark im Staate große Teile des Holzeinschlags, nimm am Drogenhandel teil, beschützt Privat Unternehmen wie Freeport und geriert sich als Verteidiger der indonesischen Minderheit. Trotzdem werden die Kopassus Einheiten von der US-Armee unterstützt. Wegen des gemeinsamen Kampfes gegen den Terrorismus und Laut Gesetz gelten die Separatisten als Terroristen. Indonesien fördert aber auch die Einbeziehung mancher Papua. Zwischen 2000 und 2008 stiegen die Subvention für die beiden Provinzen um 600 %. Innerhalb von Zehn Jahren stieg die Zahl der Bezirke von 9 auf 38, die der Beamten auf 130.000. die Bürokratie begünstigt Korruption Rivalität unter dem Papua, die Separatisten nur schwer widerstehen können.

Wie sieht die Zukunft aus?

2014 schlossen die meisten Separatisten der vereinigten Befreiungsbewegung für West Papua in Vanuatu an, einem Seit 1980 unabhängigen Staat, der ihre Förderungen unterstützt, genauso wie die Salomonen. 2016 starteten Papua im Exil rund um Benny Wenda die Kampagne Free West Papua. Sie prangerten schleichenden Völkermord durch Umsiedlungen und die Beschlagnahme von Land an und förderten ein von UNO überwachten Referendum. Im März 2017 trug Vanuatu die Misshandlungen durch indonesischen Armee vor den UN Menschenrechtsrat. Aber West Papua ist nicht Ost-Timor, das 2002 unabhängig wurde. Die UNO betrachtet West Neu Guinea nicht als Besetzt.   Die OMP, die größte bewaffnete Gruppe ist schwach und hat weniger 1000 Kämpfer, schätzt man in Jakarta und die Großmächte vor allem die USA schon in Indonesien einen wichtigen wirtschaftlichen und militärischen Partner. So werden die Papua also eher in den Rest des Landes integriert.   70 Prozent der Papua leben weiterhin in den Armeen und ländlichen Bergregionen. Aber Ihre Zahl nimmt ab. Viele wandern in die Küstenstädte ab, die in die Javanische Kultur integriert, sind gleiche Kleidung, gleiche Medien und die Gleiche Ernährung wie im Rest des Landes. Zwischen Mimika dem reichsten Bezirk an der Küste und Puncak Jaya dem ärmsten Bezirk im Zentrum mit trägt das Wohlstandgefälle 1 zu 28. Der Anpassungsdruck wird durch eine neue Pro indonesischen Führungseliten bei den Papua noch verstärkt. Und er hat folgen; 40 % der Einwohner der Region sprechen inzwischen indonesisch die Sprache der Wirtschaft. Auch der islamische Glaube der Einwanderer verbreitet sich immer mehr. Ihm gehören bereits 38 % der gläubigen in der Provinz West Papua und 16 % in Provinz west Papua an. Und das führt zu Spannungen den christlichen Papua.
Diesem Dilemma sieht sich Western China also ausgesetzt, dass ihnen gelingt seine Unabhängigkeit zu erlangen wie das benachbarte Papua Neu Guinea ist alles andere als sicher. Statt einer unerreichbaren Unabhängigkeit sollte das Ziel eher eine Normalisierung der Lage in West Neuguinea sein. Denn nur so könnten danach seine Einwohner, ob Papua oder nicht, endlich in einem Rechtsstaat leben.

Mehr zum heutigen Thema erfahren Sie L’Indonesie de la Prehlstoire a la presidence de Jokowi von Alain Requier beim Verlag Lammtan von September 2017, das such ausführlichen beruhende Buch bietet in französischer Sprache einen umfassenden Überblick über den Inselstaat der so groß ist wie Europa.
Damit endet unsere Sendung, die eine Woche lang auf arte.tv abrufbar ist. Wir sehen uns nächste Woche wieder am gleichen Ort und gleichen Zeit alles gut.

Quelle : https://www.youtube.com/watch?v=22OSp68r-gU


    
 

Ulang Tahun Gereja Katolik „Nama Maria“ Löbau

Ulang Tahun Gereja Katolik „Nama Maria“ Löbau

(18/092017-Löbau) Pembangunan Gereja Katolik „Nama Maria“ dimulai dengan peletakan Batu pertama pada tanggal 18 September 1890. Gereja ini disebut juga „Doppelgängerin“ atau kembaran dari sebuah Gereja Katolik di Selzthal di Steiermark/ Austria. Gereja dirancan oleh para Pater Benedikt dari Kloster Emmaus di Prag, Ceko. Gereja yang dibangun dalam 2 tahun ini kemudian pada tahun 1892 diresmikan oleh Uskup Dr. Ludwig Wahl. Baru Pada tahun 1906 dijadikan sebuah paroki yang disebuk Paroki „ Nama Maria“ Löbau.
Jika kita berjalan di jalan August-Bebel-Straße , dimana gereja ini berada. Kita akan dikagetkan dengan sebuah gerbang kecil yang menuju ke sebuah pintu kecil didepan Gereja. Namun pintu ini bukanlah pintu utama. Pintu utama Gereja yang sebenarnya berada di berlakang Gereja itu. Untuk itu orang harus berjalan melalui jalan itu lurus kemudian menunju arah samping Gereja, untuk masuk ke Gereja ini, ini dikarenakan Arsiterktur Gereja yang diranacang sedemikian rupa. Dengan begitu orang menyebutnya dengan sebutan „Die Kirche steht Verkehrtherum“ atau Gereja yang berdiri berbalik ke belakang.
Mayoritas Umat digereja ini para pensionan Pegawai dan sangat sedikit sekali orang muda yang terlihat atau berpartisiasi. Ini kemungkinan dikarenakan revolusi yang cepat dan nilai-nilai kehidupan dari Gereja yang mustinya hidup dalam setiap individu itu mulai redup. Juga disebabkan oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dan ketidakmanpuan seorang individu mewariskan nilai-nilai sosial dan budaya yang baik dari generasi sebelumnya.
Walaupun begitu, acara perayaan kali ini sangatlah meriah. Kami Chor dari Paroki Zittau juga mengambil bagian dalam misa yang dirayakan hari, beberapa Pastor dari Paroki terdekat juga diundang dalam acara Perayaan hari lahir Gereja Katolik „Nama Maria“ ini. (Guti)
 

Apa perbedaan antara aliran agama Katolik dan Protestan (Evangelis)?

Apa perbedaan antara aliran agama Katolik dan Protestan (Evangelis)?


Sekali lagi bahwa bagi mereka yang beragama Katolik atau Kristen Protestan adalah Kristen. Mereka percaya akan Tuhan dan Putranya, Yesus Kristus. Keduanya Dogma ini adalah arah dari Kepecayaan orang Kristen. Orang Katolik dan Protestan satu sama lain percaya bahwa Tuhan menerima dan mencintai kami. Juga ketika kita berdoa. Ciri orang kristen pada umumnya adalah mengasihi orang lain dan mengedepankan Dioalog dalam menyelesaikan konflik dengan jalan Damai. Dan Yesus sendiri selalui menjadi tokoh panutan dan contoh untuk mereka.

Dahulu mereka semua Katolik. 500 tahun lalu ini berubah. Jika ada yang ingin mengali dan mengerti lebih jauh, akan lebih baik jika mengenal sosok Marten Luther lebih dalam dan baik. Ketika itu dia seorang Biarawan yang memberontak. Dia memperhatikan bahwa Emperium Gereka ketika itu diperlakukan lebih baik dari pada senjata. Kemudian dia juga ingin bahwa umat dapat membaca Alkitab. Yang sekarang adalah buku terpenting dalam Gereja ini tidak dapat di baca dalam bahasa Jerman ketika itu. Oleh karenanya, hanya golongan terpelajar yang dapat membaca buku itu. Itu dirubah oleh Martin Luther. Dari Protes-Protesnya ketika itu bediriliah beberapa aliran lain selain agama katolik. Ketika itu Gereja Evangelis yang kemudian disebut Gereja Protestan.

Gereja Evangelis dan katolik mempunyai berbagai kesamaan-kesamaan. Tapi juga perbedaan yang bisa ditemukan. Misalanya kemudian Gereja Protestan tidak mempunyai Paus. Kemudian bagi mereka juga tidak mempunyai Parlement, yang membuat keputusan, sama halnya seperti Bundestag (DPR) [1]. Untuk orang Katolik, Paus ialah pemimpin Gereja tertinggi. Dia yang menentukan, apa yang bagi Gereja penting, dan apa saja yang harus orang Katolik perhatikan .

Bagi orang-orang Protestan, laki-laki dan perempuan dapat menjadi Pendeta dan Gembala atau pemimpin Ibadah/Misa. Kemudian mereka mereka juga diperbolehkan menikah dan mempunyai anak. Didalam Gereja Katolik hanya laki-laki yang boleh menjadi Pastor/Pendeta dan mereka tidak boleh menikah. Juga pada Alkitab ada perbedaan. Gereja Protestan misalnya tidak mempunyai Kitab Judit dan tidak memiliki kitab kebijaksanaan (Deutrokanonika). Atau dalam bahasa yunani diartikan „termasuk kanon kedua“ [2].

Perbedaan terbesar terletak ada di Ekaristi atau sakrament [4]. Dalam setiap Misa setiap umat menuju ke Altar. Pastor mengingatkan akan penjamuan terakhir, pada malam Jesus menghabiskan waktunya bersama rasul-rasulnya, sebelum Dia disalipkan. Ketika itu Dia membawa roti dan memberikan kepada Murid-Murid-Nya. Juga memberi Anggur kepada Mereka. Kedua santapan ini mereprensentasikan Tubuh dan darah Yesus, yang dia serahkan, agar dosa kita bisa ditebus.

Orang dari Protestan merayakan Perjamuan malam itu juga. Mereka mengerti Roti dan Anggur sebagai sebuah lambang. Mereka mereprensentasikan itu dengan tubuh dan darah Yesus. Dengan itu mereka ingin menujukan, bahwa Yesus sangat mencintai kita, oleh karenanya Dia mati dikayu salib. Orang Katolik percaya, bahwa Hosti dalam perayaan Ekaristi menjadi Tubuh Yesus dan Anggur sebagai darah Yesus.

Orang Katolik dan Protestan juga membuat perbedaan pada pasangan suami-istri. Nikah katolik, kemudian diasumsikan bahwa ikatan didepan Tuhan ini bersifat kekal dan abadi.

Jika ada Suami-istri dalam perjalan hidup bersama mereka, mereka memilih bercerai maka mereka tidak diperkenakan untuk menerima Hosti. Sedang Gereja Protestan melihat ini berbeda. Mereka yang sudah bercerai tidak memiliki pengecualian dalam menerima Hosti dan kemudian mereka juga nantinya diperbolehkan menikah [3].(Gusti Giyai)

Video courtesy of Martin Luther.

Penulis adalah Mahsiswa Teknik disalah satu Universitas di Jerman

Sumber:

  1. https://de.wikipedia.org/wiki/Deutscher_Bundestag
  2. http://membaca-alkitab-kristen-katolik.blogspot.de/2014/12/perbedaan-kitab-katolik-vs-protestan.html
  3. http://www.epd.de/zentralredaktion/epd-zentralredaktion/was-ist-der-unterschied-zwischen-evangelisch-und-katholisch
  4. http://www.kaj.or.id/dokumen/sakramen-sakramen/sakramen-ekaristi
 

Identifikasi Aliran Laminar, Transisi dan Turbulent dalam pipa Glas horizontal

Experiment menurut Osborne Reynold

Raynold Eksperiment

Experiment ini Berhubungan erat dengan Aliran yang mengalir dalam sebuah Pipa yang memiliki luas aliran tertentu dan konstant. Dalam Experimentnya Osborne Reynold (1883) mengamati karakteristikum dari aliran yang mengalir horzontal melalui Pipa gelas. Dalam Pipa gelas tersebuk mengalir cairan pewarna tertentu ( biasanya Kaliumpermanganat KMnO4) yang berwarna violet. KMnO4 ini akan sangat larut dengan air maka sangat baik untuk dipakai dalam Experiment dari Reynold ini.[2]

Prinsip kerja

Prinsip kerja dari Experiment ini adalah sebagai berikut.

  • Mengisi Tabung dengan Air hingga penuh
  • membuka ventil antara pewarna dan Tabung air. Agar pewarna dapat mengalir keluar menuju ke Pipa gelas yang terletak horizontal dalam tabung berisi air melalu jarum dengan Diameter sekecil mungkin.
  • Membuka Ventil antara tabung dan Tabung penampung air terakhir dibawah meja Experiment
  • Ventil yang dibuka harus di putar perlahan-lahan dan kontinu agar perubahan bentuk dari benang warna yang mengalir dalam pipa gelas tadi dapat terlihat jelas.

Hasil dari Pengamatan Osborne Reynolds

Dalam pengamatan dia menyimpulkan bahwa Zat KMnO4 yang mengalir dalam tabung gelas sangat bergantung pada Kecepatan dari aliran air dan zat pewarna yang akan berbentuk garis ketika mengalir, diameter dari pipa gelas dan viskositas dari pewarna begitu juga air dalam tabung itu. Perubahan Viskositas Pewarna dan Air bergantung dari Temperatur dan Kepadatan air. Maka dalam pengamatan itu juga dia menyimpulkan bahwa terdapat tiga zona Aliran dalam perubahan dari KMnO4 yaitu aliran laminar, transisi dan tubulen.[1]

Manfaaf dari Experiment Reynold

Dalam Dunia Teknik Formel yang ditemukan Reynold berperan penting dalam membuat modelin sebuah mesin turbin pada pemabngkit listrik batu bara atau sayap pesawat. Juga dalam dunia Energi, pengembangan teknologi mesin energi terbarukan, dalam hal ini Turbin. Dimensi dan Model yang ciptakan harus selalu dibandingkan dengan Re (Bilangan Reynold) melalui teori kesamaan. Ini dikarenakan Turbin sendiri dipasang untuk sebuah kebutuan expansi Energie dari Aliran udara dan air.

Dalam Penelitian di Hochschule Zittau/Görlitz dapat dilihat dalam Video dibawa bahwa, Perubahan dari bilangan Reynold pada ketinggian air tertentu berubah sejalan dengan perubahan waktu. Dalam Video menujukan bahwa semakin kecil tinggi air dalam Tabung penampung itu maka semakin besar nilai bilangan Reynold.

Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_fluida (26/05/2017)
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Osborne_Reynolds (26/05/2017)

Penulis adalah Mahsiswa Teknik disalah satu Universitas di Jerman

 
 
Support : SAVE THE ENVIROMENT OF WEST PAPUA | INFO PAPUA | KNPB NEWS
Copyright © 2011. PAPUA TO OUR WORLD - All Rights Reserved
Template Created by Mr.YOGIX FWP Published by AGUSTINUS GIYAI
Proudly powered by Blogger