Latest Post

Marta kecil dan tamu tak diundang di Goa Gunung Wikitai

Siapa yang tidak tahu penuh misterinya alam Papua. Hutan dan alam yang mistis sering sekali digambarkan dan diceritakan dalam buku harian oleh banyak pendaki gunung yang melalang buana di daerah pegunungan Papua yang datang dari berbagai tempat di belahan bumi yang lain. Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa papua merupakan salah satu daerah yang cukup sulit untuk dijangkau, dibanding daerah lain di Indonesia. Akses udara kadang menjadi satu-satunya andalan untuk melakukan perjalan dari satu daerah ke daerah yang lain. Kontur wilayah Papua yang penuh dengan perbukitan nan tinggi menjadikan alam Papua penuh eksotik. Rata-rata tantangan di atas banyak dihadapi jika orang mengunjungi daerah-daerah di bagian pegunungan Papua atau wilayah adat Meepago dan Lapago yang terisolir.

Kesulitan yang sama juga juga seringkali dihadapi oleh para pemburu muda atau amatiran yang berburu di hutan dan pegunungan Papua. Hutan bagikan selimut hijau yang memajang sepanjang pegunungan menjadi tempat hidup berbagai marga satwa liar. Hewan-hewan liar ini biasanya menjadi incaran para pemburu lokal. Masyarakat lokal di daerah pegunungan berburu kuskus dan babi hutan. Ini mereka jadikan hidangan buruan paling lezat dan bisa disimpan dalam waktu lama, dengan proses pengawetan makanan ala tradisional yang sejak lama telah diturun-temurunkan oleh nenek moyang mereka.

Ilustrasi Sumber Dok : https://www.newmandala.org/hope-west-papuan-refugees-png/

Orang dari sukunya Marta, orang Mee, percaya bahwa kehidupan di dalam alam mistik yang terkandung dalam tanah hutan dan udara hidup berdampingan dengan Manusia. Kehidupan yang harmonis ini dahulu kala terjadi secara nyata. Untuk menjaga konsistensi dari relasi hidup dalam dua atau lebih dimensi alam yang berbeda itu tak pelak sangat sering dilakukan ritual adat yang dilangsung secara rahasia maupun terbuka. Acara-acara atau ritusalnya dipimpin oleh beberapa orang yang dituakan atau mereka yang memiliki kemampun supra natural yang hidup dan sering melakukan hubungan komunikasi intermedium dengan para makluk metafisis tersebut.

Dan bahkan di daerah-daerah tertentu itu masih terjadi hingga zaman modern ini. Dalam kondisi seperti itu agak sukar kita katakan bahwa daerah ini masih hidup dalam alam primitif karena di kota-kota besar di Benua Biru, begitu juga di negri Paman Sam sekalipun praktik-praktik semi metafisis atau berkomunikasi dengan alam gaib tersebut masih terus terjadi. Di samping itu kehidupan Masyarakat Papua dan Masyarakat Modern sama-sama menikmati kehidupan keagamaan yang sama. Namun di titik tertentu di dalam kehidupan sosial budaya masyarakat tertentu relasi hidup kehidupan mistik dan manusia pun masih berlangsung. Beberapa individu tidak punya kekuatan supranatural namun dalam kehidupan sehari-hari mereka mendapati diri mereka bertemu sosok yang penuh misterius.

Marta pun pernah mengalami hal mistik yang sama, waktu bersama ayahnya, Degamoye ketika tinggal di sebuah Goa dengan sebuah pondok yang telah dibangun didalamnnya di gunung Wikitai dalam rangka mencari Woda.

sudah menjadi kebiasaan degamoye dan bahkan semua laki-kali yang berburu Woda untuk mempersiapkan bekal dan aparatus lain yang nantinya digunakan selama mereka tinggal di pegunungan, tempat dimana mereka akan melakukan perburuan. Degamoye sering mempersiapkan persiapan berburu sendiri tanpa dibantu oleh orang lain. Yang artinya tidak dibantu oleh istri dan anaknya. Dia juga seorang pemburu ulung yang melakukan aktivitas pemburu sendirian dan tidak pernah berjalan bersama dengan sodara yang lain dari kampungnya. Memang sudah dari sejak mudahnya dia menjadi pria yang mandiri dalam mencari uang/kebutuhannya sendiri dan memgupayakan kecukupan makan minum untuk dirinya sendiri. Kemandiriannya itu pun berlanjut ketika dia sudah menikah dan berkeluarga. Degamoye yang mempunyai karakter pendiam dan pekerja keras memang cukup piawa dalam memburu kuskus.

Dalam banyak pengalamanya berburu kuskus, pertemuanya dengan pri/penunggu (abe dan tameyai) di gunung-gunung dan berbicara dengan penunggu gunung ,juga setan Woda (Wodaniya) sudah menjadi hal yang lumrah alias sudah sangat sering dia lakukan. Oleh karena itu secara tidak langsung alam sudah bersatu dengan dirinya. Atau dengan kata lain daerah berburuan dan hewan buruannya sudah dia menjiwainya. Yang menjadi soal adalah ketika dia berjalan dengan orang lain. Hal ini akan sangat merepotkannya, karena dalam melalang buana dalam alam dan gunung wikitai yang misterius itu, mungkin alam itu cukup Familiar bagianya,namuns sebaliknya buta Alam menjadi lebih liar jika dia bersama orang lain. Misalnya ketika marta mengikutinya berburu ke Wikitai. Ceritanya sebagai berikut:

Seperti biasa, kicauan burung-burung pipit membangunkan Marta dan keluarga. Lusia dan Yulia memulai dengan kebiasaanya mereka yaitu berdoa. Doa yang mereka lantunkan seperti biasa memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih satu jam. Si Marta pun juga selalu larut dalam kebiasan doa bersama mereka itu di kewita(bahasa mee: rumah adat perempuan). Doa mereka akan berakhir dengan Doa Salam Maria dan tBapa kami sebagaimana sesuai dengan ajaran dan ritus Gereja Katolik Roma.

Jam bergerek trus menuju jam 06.00 WIT. Lusia, Yuliana dan Marta mulai dengan kegiatan berikut yaitu masak Petatas dan sarapan lain untuk menjadi santapan pagi dan bekal dalam aktitifas harian mereka. Kira-kira jam 06.30 suara tamu memanggil dari depan pintu rumah

„ selamat pagi“ saut seseorang dari luar.

Mereka diam menunggu orang ini masuk ternyata Degamoye.

Lusia menjawab „ iya pagi juga Bapa, baru Bapa sudah sudah makan k belum ?“.

Degamoye menjawab „ belum, ada Nota k ?“ lusia mengajak makan pagi bersama „ada nota ini“.

Mereka pun makan pagi Bersama. Tak berselan lama suara seorang anak-perempuan berbunyi

“ selamat pagi , Marta !“ saut seseorang dari luar,

Marta menjawab „ ya pagi, Ester”

marta tahu suara itu adalah si Ester, taman sebayanya yang juga teman sekolahnya di SD YPPK St. Teresia Diyai. Sekolah dasar ini milik Yayasan Gereja Katolik yang sudah didirikan sejak lama di Diyai. Ester juga termasuk salah seorang saudari sepupunya Marta yang cukup dekat dengannya. Ester ini adalah anak dari Angela, seorang anak perempuan dari istri pertamanya Bapa dari Yuliana dan Lusia. Istri keduanya adalah pekamadi yang adalah ibu dari Yuliana dan Lusia. Setelah Marta bersiap sedikit, Marta dan Erster bergegas ke Sekolah. Sesaat sebelum berangkat ke skolah Degomeye sontak memanggil Marta dari dalam Kewita

„Marta Marta, sebentar nanti tolong bantu Bapa di kebun, di bawah, dekat Dadekogopa“.

„siap Bapa“ jawab Marta sambil berjalan pelan di depan Rumah.

Marta dan Erster perlahan-lahan berjalan ke sekolah, tidak lama kemudian mereka pun tiba di sekolah. Seperti biasa mereka mengikuti apel pagi dengan baik dan rapi lalu masuk ke kelas. Kebetulan Ester dan Marta bersekolah di sekolah Dasar yang sama, di DS YPPK St. Theresia Diyai. Mereka berdua ketika itu berada di kelas 3 bersama ,Fransiska Pekei, Pak Guru Matias Douw (alm.) dan teman-teman mereka yang lainnya. Matias Douw (alm.) kelak menjadi guru kelas dan kepala sekolah di SD ini juga.

Setelah proses belajar mengajar usai jam 11.00 siang, ingatan Marta masih mengarah pada pesan Ayahnya, Degamoye, untuk datang ke Dadekogopa untuk membantu ayahnya yang mengerjakan kebun disana. Ester dan Marta pulang bersama ke rumah, sebagaimana biasanya Ester pulang kerumah dan Marta menuju ke Kebun. Perlahan-lahan Marta berjalan ke Dadekogopa. Kebun Mereka di Dadekokogo jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka dan jalan besar, kurang lebih setengah kilometer. Dari kejauhan Degamoye sudah mulai terlihat di mata si Marta. Melihat Marta, Degamoye menyuruhnya,

„ marta sudah datang ee, bisa bantu bapa cari Nota dulu k, sebentar kita akan lakukan perjalan jauh ?“.

Marta pun bertanya kembali „kemana Bapa ?“ dengan penuh keingintahuan.

Degamoye menjawab „ke Wikitai, untuk cari Woda“.

langsung Marta bergerak cepat untuk mengali Nota dan kemudian segera membersihkan hasil galiannya itu. Tak lama berselang tepat jam 01.00 siang Degamoye melempar pertanyaan ke marta katanya,

“Marta ubi sudah digali dan dicuci k ?” ,

Marta pun menjawab „sudah Bapa “.

Degamoye melihat matahari sudah menuju ke barat. Dia bersaut katanya,

„oke kita jalan sudah“.

Marta perlahan-lahan mengangkat satu noken yang berisi Nota. Dengan pelan dan penuh semangat melangkah dari Dadekogopa. Sessunggunya Marta sangat senang karena kala itu, perjalanan itu adalah pengalaman pertamanya berburu bersama ayahnya, Degamoye, ke Wikitai. Selama ini dia mendengar cerita mengenai Wikitai dari Bapanya. Sepanjang penjalan dia sangat senang karena bisa berpetualangan di tempat yang jauh dari rumah dan dapat melihat secara langsung tempat yang Degamoye sering kunjungi dan juga tempat dia meletakan kepalanya di malam hari.

Dalam perjalanan Degamoye berjalan dengan pengaturan ritme nafas yang biasa. Sedang Marta berjalan dengan penuh semangat, rauk wajahnya sama sekali tidak menujuhkan rasa capek. Perjalan yang mereka penuh bukit-bukit dan melewati gunung-gunung dan jurang-jurang terjal pun berakhir pada sore hari jam 18.00.

Dikarenakan perjalanan yang panjang, kecapean pun memuncak seketika. Mereka memutuskan untuk sejeka beristrahat 30 menit menghilangkan penat. Sesudah beristrahat Degamoye meminta Marta untuk tinggal di situ.

„Dega (Anak perempuan) tunggu Bapa di sini ya, Bapa mau pergi cari alang-alang untuk buat rumah kecil (red pondok) di sini”.

Martapun yang umurnya 10 tahun kala itu hanya mengangguk mengangguk meniyakan pintaan Bapanya itu. Selang malam jam 15 menit kemudian Bapanya kembali. Degamoye tidak begitu lama keluar karena dia tahu betul kondisi hutan yang begitu misteri dan penuh dengan bahaya itu. Dengan alang-alang yang diambilnya itu, dia membuat mereka tempat bermalam di situ untuk satu minggu ke depan.

Setelah menyelesaikan pembuatan Pondok hunian selama seminggu mereka. Degamo dan si Marta memulai menyalakan api untuk memasak hidangan makan malam mereka. Marta pun mulai bertanya ke ayahnya apa saja hal-hal misterius yang sering terjadi. Pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan adalah sebagaimana pertanyaan anak-anak pada umumnya jika berjalan ditempat yang jauh dari keramaian katanya,

„Bapa disini ada Setan k ?“.

Bapanya pun menjawab pertanyaan itu dengan tidak bermaksud untuk menakut-nakuti katanya „Di sini memang ada, tapi jangan takut, sejauh ini di Goa ini aman-aman saja“.

Dengan begitu hatinya Marta cukup legah. Tidak terasa percakapan mereka berjalan begitu lama , sampai-sampai waktu menujukan jauh malam, Marta dan Ayahnya terlelap dalam tidur malam mereka.

Pagi pun tiba, sebagai mana biasa berbagai jenis burung dan satwa liar berkicau dan mengaung dengan ritmenya masing dan khas itu. Mereka memberi simbol kepada alam dan manusia yang mendiami daerah itu bahwa pagi sudah merekah dan aktifitas harus dimulai. Degamoye juga ikut terbagun dan mempersiapakn sarapan pagi untuk mereka berdua. Tak lama kemudian dia meminta dengan sangat agar Marta tinggal dirumah atau pondok mereka yang telah mereka buat di dalam Goa itu saja. Dia juga dengan keras menekankan untuk tidak bemain jauh dari situ atau bila perlu tidak keluar dari sana, hingga Degamoye kembali dari aktifitas berburu.

Degamoye sejak keluar dari Goa mulai melakukan aktifitasnya memasang jerat diatas pohon dan di atas tanah. Jerat yang dibuat dan dipasang itu dikhususkan untuk buruan primadona para pemburu Mee yaitu Kuskus. Sebenarnya dihutan Wikitai sendiri dihuni oleh berbagai jenis kuskus. Namun untuk menggait Kuskus dengan jerat memang sebuah persoalan yang rumit dan butuh keahlian khusus. Degamoye sudah terbiasa dengan itu karena talenta soal memburu kuskus sudah menjadi makanan sehari-hari buatnya sejak muda.

Sesudah hari menjelang sore Degamoye pun beranjak dari hutan menuju kerumah dengan hasil jeratan, dua ekor Kuskus hutan. Sesampainya di rumah Marta sudah menunggunya di sana. Kira-kira pukul 18.00 sore Degamoye muncul di rumah. Mereka akan pun mulai masak makan malam. Tidak banyak hal yang mereka percakapkan. Dan ketika malam menjemput kedunya pun larut dalam tidur mereka masing-masing.

Hari ke dua pun tiba, seperti biasa Degamoye seusai menyelesaikan ritual pagi mereka, dia bersiap menuju lokasi pemburuan yang telah dia pasang sebelumnya. Ketika sampai di sana dia hanya mendapat dua ekor lagi kuskus yang terjebak dalam jerat yang telah dia pasang di hari sebelumnya. Hari sudah menuju sore, walau nasibnya hari itu kurang baik seperti hari-hari sebelumnya dia pun tetap keasikan melanjutkan aktifitas pemasangan jerat di berbagai tempat di dalam lebatnya hutan Pegunungan Wikitai.

Tiba-tiba sore jam 15.00 pun hujan turun, dia mendengar Guntur dan deruh hujan merintik. Karena hutan yang begitu lebat maka hujan yang rintik-rintik ini terdengar lebih besar suaranya. Di tengah suara itu dia mendengar ada suara yang besar yang datang dari arah tempat tinggalnya, kekuatirannya memuncak. Pikirannya pun terguncang dan fokusnya segera saja spontan mengarah ke anak perempuanya yang dia tinggalkan di Goa itu. dia meninggalkan semua yang sedang dia lakukan dan berjalan dengan langkah cepat menuju ke Goa. Dalam perjalannya gejolak konflik dalam perasaannya pun mengunjang jiwanya, apa yang terjadi dengan Marta di Goa. Dia berusah menahan diri dan mengarahkan diri pada perasaan dan pemikiran yang positif. Akhinya dia tiba pada jam 17.00 sore. Ketika masuk, dia mendapati marta sedang berada diluar gubuk yang mereka bangun. Dan dia bertanya,

„Marta kamu sedang cari apa ?“. marta pun menjawab

„Bapa saya ada cari perempuan cantik yang barusan keluar dari gubuk, tadi kami berdua duduk lama di gubuk tapi dia tiba-tiba menghilang jadi“.

Degamoye pusing tujuh keliling, dia berbicara dalam hati,

„ini siapa yang datang ini ?”.

Karena penasaran dengan sosok tamu yang tak diundang tersebut degamoye pun bertanya,

“ itu siapa yang datang tadi ?“.

Karena Marta melihat Degamoye sakin serius ingin tahu siapa sosok itu, marta mulai mencerikan apa yang terjadi denganya ketika Degamoye lagi asyik memasang jerat. Degamoye pun duduk dan Marta mulai bercerita.

Dia bercerita bahwa, dia pagi itu lagi duduk di pondok mereka dalam Goa. Sejak pagi hari daerah itu sudah mulai diguyur hujan dibarengi guntur dan kilat. Sesekali guntur dan kilat membela langit dan awan hitam menutup daerah itu. jadi Marta hanya tinggal diam di dalam rumah sambil mempersiapkan makan malam mereka. Waktu menunjukan jam 15.00 sore kilat dan guntur mulai mengemuruh keras, seakan ingin merobohkan pondok yang mereka bangun dalam goa. Pintu pondok mereka yang mereka buat pun dibiarkan terbuka. Selang beberapa menit setelah kejadian itu secara tiba-tiba kilat muncul di depan muka pintu dan seorang perempuan cantik jelita pun muncul di depan pintu pondok mereka. Marta melihat perawakan perempuan cantik itu dengan seksama. Perempuan cantik itu terlihat berambut Panjang dan berkulit putih berseri tapi dengan memakai rumbai-rumbai/cawat (Bahasa Mee : Moge), Dilehernya tergantung sebuah noken kecil yang telihat berisi sesuatu. Ketika si perempuan bercawat itu masuk ke pondok kecul itu Katanya,

“Selamat Sore Oge !”.

Perempuan itu masuk ke pondok rumah mereka seakan mereka sudah lama saling mengenal, itu terlihat dari sapan yang lembut dan terdengar khas. tanpa rasa ragu dan takut Marta pun menjawab katanya,

„ Sore juga!“.

Dalam pemikiran Marta waktu itu adalah dia ini perempuan yang tinggal di daerah itu. Perempuan Misterius itu memulai percapakan dengan bertanya Marta,

„Oge kamu lagi buat apa ?“.

Marta dengan santai menjawab, dia sedang masak Nota. Bahkan Marta tanpa basa-basi menawarkan Nota ke Tamu Misterius itu katanya,

„Nota ada jadi kalau mau makan silahkan diambil saja, jangan sungkan!“.

Namun tamu perempuan ini menolaknya dengan mengatakan,

„saya juga ada bawa Nota banyak dari rumah”

sambil menujukan isi Noken kecil putih kecil yang tergantung di lehernya. Lalu pembicaran mereka pun berlanjut dengan berbagai topik, namun perempuan bernoken kecil itu bicara lebih banyak mengenai pengalaman dan hal-hal yang lain. Sedangkan marta hanya mendengarkanya dengan seksama.

Pembicaraan mereka pun berjalan alot dalam gerimisnya hujan dan guntur disertai kilat di seantoro pegunungan Wikitai. Ketika hari sudah menjadi agak gelap kira-jam 17.00 waktu Wikitai tiba-tiba guntur dan hujan mengemuruh lebih kencan. Dalam pembicaraan yang mereka dan kilat itu si Tamu tak diundang itu pun menghilang dalam kilat dan guntur itu. Marta terkejut dengan kejadian itu. Marta berusaha mengapainya dengan keluar mencarinya diluar, dengan harapnnya dia menemukan perempuan itu di luar gubuk mereka. Bukanya menemukan Perempuan itu, Marta bertemu Degamoye yang tiba dengan penuh kecemasan. Ternyata firasatnya dan suara yang aneh tadi berasal dari si Wanita nan jelita itu yang juga menutun dia pulang ke Goa.

Pembicaran mereka pun terdengar oleh telinga Degamoye yang kebetulan waktu itu sedang berada tidak jauh dari Goa mereka itu. Perasaan dan hatinya risau dengan apa yang dia dengar. Dia sangat mengekwatirkan anak perempuannya Marta. Karena dia sangat tahu benar mengenai daerah itu, bahwa tak seorang pun yany berdominisili di daerah itu, karena daerah itu berada didalam hutan yang sangat dalam dan kehidupannya di dalamnya yang sangat buas memebri kepastian kepadanya bahwa tidak mungkin ada orang yang tinggal di situ.

Akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih cepat dan mengikuti suara misterius yang terdengar di telinganya itu. lambat-lambat laaun suara itu benar-benar datang dari arah goanya, dimana anak perempuanya, Marta menunggunya. Langkah kaki yang tadi berjalan dengan kecepatan normal, kali ini di berjalan sambil berlali kecil. Namun ketika dia sampai di rumah dia hanya menemukan Marta sendiri sedang duduk dalam pondok kecil itu. lalu ayahnya menayakan apa yang terjadi denganya, karena dia sebelumnya mendengarkan suara yang cukup mengaung yang sumbernya tidak lain dari goa yang mereka tempati sementara itu.

„kamu baik-baik saja Marta“ sambil mengambil nafas secara pelahan untuk menghilangkan rasa kwatirnya dan capeh.

Marta mencertiakana apa saja yang terjadi apa saja yang terjadi selama dia di rumah.

Sang ayah terkagum-kagum tapi juga sekaligus rasa takut dengan cerita yang dicerikan oleh si Marta anaknya. Karena menurut cerita dan pengalaman, bahwa jika Pri gunung seperti itu datang dan bertamu di tengah hutan seperti itu dan dalam percakapan seorang pemburu mengambil ataupun memakan makan yang dibawanya maka secara otomatis orang tersebut terinisiasi menjadi bagian dari si pemilik makanan itu. Sehabis cerita panjang lebarnya Marta, dia memutuskan untuk pulang lebih awal ke Diyai. Ini ditakutkannya karena ia berkeyakinan bahwa mereka bisa saja datang sewaktu-waktu untuk membawa Marta dan dijadikan calon pengantin wanita dalam dunia mereka.

Akhirnya pagi-pagi benar, Marta dan Degamoye melakukan perjalannya kembali ke Diyai. Dalam formasi perjalan mereka pun Marta didahulukan dalam perjalana mereka oleh ayahnya. Karena mengkwatirkannya bahwa Marta bisa saja diculik jika marta berjalan di belakang Degamoye.

Sesudah beberapa minggu Ibunya Marta Lusia mengetahui cerita tersebut dari Marta. Dan dan bertanya kebenaran cerita tersebut kepada Degamoye. Dan Degamoye tak dapat menyembunyikan cerita itu dari mereka dan mau tidak mau dia harus meniyakan apa yang terjadi tersebut, walaupun dia tahu dia akan dimarahi oleh Lusia dan Yuliana, kedua Istrinya itu. Benar, serperti yang dia pikirkan. Dia dimarahi dan ditegur oleh keduanya agar tak lagi membawa marta ke hutan Wikitai. Yang akhirnya diamini Degamoye. Dalam pemburuan-pemburuan selanjutnya, dia tidak lagi membawa orang lain dalam perjalan berburunya di Pegunungan Wikitai.

>>>Ceritanya diangkat dari cerita harian Ibu <<<

~~~§ Selesai §~~~

 

Konsep alternatif dalam optimlisasi Mahasiswa Lulusan LN di Papua



(Zittau 29/05/2019) Pemberian Beasiswa Program 1000 Ph.D yang dicanangkan oleh Pemprov Papua yang sekarang dikelolah oleh Biro Otsus Papua dimulai pada tahun 2009 yang diprakarsai oleh Gubernur Barnabas Suebu sudah mulai menghasilkan buah. Di tahun itu angkatan pertama diseleksi dan dipersiapan pengetahuan sains dasarnya di jakarta di bawah naungan Prof. Yohanes Surya Ph.D. Disana para penerima beasiswa ini menimbah ilmu dibawah naungan Surya Institute yang dikemudian hari berubah nama menjadi Surya University. Para calon mahasiswa ini setelah menyelesaikan Ujian Nasionalnya ditingkat SMA, mereka sesudah melalui berbagai test akan dikirim ke berbagai Negara dan tersebar luar di empat benua, Eropa, Amerika, Australia dan Asia timur.

Program ini berlanjut hingga sekarang dan setiap tahunnya menghasill banyak sekali insinyur muda Papua yang bekerja di berbagai Negara dan Institut penelitian di negara-negara barat. Bahkan sebagian menerima tawaran untuk bekerja di berbagai perusahan-persahan yang beroperasi didalam Negeri dan ditempatkan diberbagai Posisi.
Sejak Program ini dijalankan, banyak hambatan dan tantangan yang didapat oleh pemberi dan penerima beasiswa. Dari sisi pemberi Beasiswa, menurut pejabat berwenang yang baru terpilih, bahwa selama ini program ini berjalan secara amburadul karena road mapnya tidak gamblang. Sebagai conton dia memaparkan antara lain bahwa daftar penerima beasiswa yang belum teratur dan belum mempunyai manajement kontrol yang baik terhadap kondisi perkembangan studi para penerima Beasiswa tersebut. Untuk itu tambahnya, pihaknya selama ini mencoba untuk memperbaiki hal-hal signifikan tersebut melalui pendekatan-pendakatan yang terbentuk dari beberapa terobosan-terobosan dalam manajemen pengelolaan beasiswa ini.

Dalam beberapa tahun terakhir banyak kunjungan  juga yang dilakukan oleh pihak pemberi beasiswa dalam rangka kontrolling kondisi mahasiwa di berbagai negara. dalam Audiensi dan diskusi yang dibuka dalam kunjungan-kunjungan itu, banyak mahasiswa yang juga menanyakan perihal apa yang akan dilakukan pemerintah Provinsi papua sebagai pemberi beasiswa dalam mempersiapkan para lulusan LN ini ketika kembali ke tanah air. Pertanyaan ini menjadi penting karena menurut mereka, dengan ilmu dalam bidang yang telah mereka resapi teorinya, mereka ingin berusaha membantu pemerintah dan masyarakat Papua dalam mengembangkan sektor-sektor potensial yang ada di Papua.

Didalam Audiensi-Audiensi yang sama ada beberapa mahasiswa yang memberi masukan-masukan dalam menyikapai kepulangan Mahasiswa Papua lulusan LN sebagai konsep alternatif dalam meminimalisir pengganguran jangka panjang yang diantara sebagai berikut.

1. Pemerintah Provinsi Papua dengan kapasitasnya sebagai pemberi beasiswa paling tidak dapat menyiapkan tempat untuk para insinyur muda ini, dengan jalan membuka sebuah pusat Ilmu pengetahuan alam multi disiplin yang dimotori oleh berbagai peneliti senior LN. Melalui Lemabaga ini mahasiswa/i Papua yang masuk dalam kualifikasi yang sudah ditentukan dijadikan asisten-asisten dalam berbagai proyek penelitian yang dicangkan.

2. Memberi para lulusan Luar Negeri ini peluang untuk menimbah ilmu pada setiap proyek-proyek pemerintah dengan menjadikan mereka sebagai asisten-asisten pengawas dari SKPD terkait dalam perkembangan proyek tersebut. Dengan harapan pada proyek pemerintah selanjutnya mereka bila perlu dijadikan eksekutor dalam proyek-proyek tersebut.

3. Pemerintah mendirikan berbagai sekolah Vokasi dalam berbagai bidang dengan tujuan lulusan dari sekolah vokasi menerima lisensi untuk dipekerjakan dalam berbagai bidang. Misalnya pertanian, perikanan, perkebunan atau listrik. Disini para lulusan LN ini dijadikan sebagai Asisten Pengajar didalamnya.

4. Mendirikan BUMD dalam berbagai sektor basis yang didalam mengakomondasi kebutuhan dasar masyarakat Papua. Dalam perekrutannya karyawan, para lulusan LN ini mempunyai kesempatan untuk bekerja disana. Dengan begitu pengalaman mereka dalam berinovasi teknologi makin baik dan dengan pengalaman ini peluang mereka untuk berwiraswasta makin luas.

Empat hal diatas ini harapannya bisa menjadi solusi altenatif dalam optimalisasi SDM Papua kedepan. dengan begitu tuntuntan Pemerintah Provinsi Papua yang memberi harapan besar kepada para penerima lulusan luar negeri untuk dapat bekerja di perusahan ternama di dalam dan maupun diluar negeri dapat terjawab.
Harus juga dimengerti bahwa dalam melamar kerja, pengalaman selalu menjadi nilai tambah dalam lamaran (CV) yang dikirimkan perusahan-perusahan. Oleh karena itu dalam hal ini baik itu penerima maupaun pemberi beasiswa juga harus rasional dalam berpikir dan bermimpi kedepan. (Gusti)


 

West Papua, vergessene Konflikte

Herzlich willkommen auf arte zu einer neuen Ausgabe von mit OFFENEN KARTEN

Was wissen Sie über die Papua?


Benny Wenda und Kampagne Free West Papua in London


Auf diesem Foto sehen Sie aus West-Neuguinea, die ihre Unabhängigkeit fordern. Zu erkennen ist, dass der Flagge der Separatisten, die seit 1963 unter der Fluchte Indonesiens leben. Das gilt nicht für das benachbarten Papua Neuguniea, dass ein unabhängiger Staat ist. Bekannt sind die Papua für ihre traditionelle Bekleidung und ihrem Kampf gegen die Vernichtung des Urwaldes weniger bekannt ist der Papua aus West Neuguniea. Si lehnen sich seit über 50 Jahren so gut, sie können gegen den militärischen, wirtschaftlichen und kulturellen Einfluss der indonesischen Staatmacht auf. Ein Bericht aus einem zerrissenen Land. Das zwischen Asien und Australien liegende West Neuguinea gehört zum Neuguinea, der nach Grünland zweitgrößten Insel der Erde. Sie ist mit 800.000 km2 mehr als doppelt so groß wie Deutschland und durch den 141 Längengrad in zwei Teile geteilt. Den östlichen Teil nimmt Papua Neuguniea ein, dass seine Unabhängigkeit von Australien 1975 erlangte. Der westliche Teil gehört wie gesagt seit 1963 zu Indonesien. Mit 10 Einwohner pro km2 hat die West Neuguniea die gerieste Bevölkerungsdichte des Landes. Auf 420.000 km2 leben 4 Millionen Menschen. Damit leben dort 1,7 % der indonesischen Bevölkerung auf einem Viertel des Staatgebietes und die Region verfügt überreiche Vorkommen an Holz, denn die Insel ist von dichtem Regenwald bedeckt, Ein Arzte vor allem an Kupfer, Gold, Silber und Nickel sowie an Erdöl und Erdgas in den Küstengebieten. Die Papua, was auf Malaiisch so viel kraus haarig bedeutet, wanderten vor 40.000 Jahren   aus Südostasien und Australien ein. Sie bilden hunderte von ethnischen Gruppen mit über 1000 Sprachen und an der Küste ließen sich vor etwa 3000 Jahren austronesischen Volksgruppen aus dem heutigen Taiwan nieder. In 17. Jahrhundert geriet die Insel unter die Kontrolle der niederländischen Ost Indien Kompanie. 1858 wurde sie zwischen deutschen Reich Großbritannien und den Niederlanden aufgeteilt, kolonialisiert und christianisiert. 1949 wurde Indonesien unabhängig und die Niederlande zogen sich zurück außer aus niederländische Neuguniea, um Ihre Kolonie zu behalten, begünstigten sie die Indonesia. Die Papua Ihrerseits hofften auf Unabhängigkeit. Der Indonesische Präsident Sukarno jedoch wollte ein Indonesien von Sabang bis Merauke. Ende 1961 kam es zu einem kurzen bewaffneten Konflikt. Die Indonesien unterstützenden USA zwangen die Niederlande bei der UNO ein Abkommen zu unterzeichnen. Indonesien übernahm ohne die Papua zu Fragen 1963 das Gebiet und entsandte Beamte und Soldaten. Bei der nun folgenden brutalen Gleichschaltung starben 30.000 Menschen zwischen 1963 und 69. 100.000 Papua flohen ins benachbarte Papua Neuguniea. Dadurch bekam die Unabhängigkeitsbewegung Organisation für einen freien Papua Zulauf. 1969 wurde die im New Yorker Abkommen festgelegte Volksabstimmung durchgeführt. Aber auf Druck Indonesiens bestätigten die Stammführer den Status quo. Die Indonesische Herrschaft war völkerrechtlich besiegelt.  Indonesien begann das neue erworbene Gebiet umgehend wirtschaftlich auszubeuten. Die riesige Grasberg Mine, das größte Goldbergwerk und das drittgrößte Kupferbergwerk der Welt wird in einer sehr großen Höhe von US Unternehmen Freeport Mcmoran seit 1967 betrieben. 2015 war Freeport mit über 33.000 beschäftigten und zuliefern der größte Arbeitgeber der Region sowie der größte Steuerzahler des Indonesischen Staates. Der schließt dafür die Augen vor der Einleitung vor der Einleitung von giftigem Abraum in Flüsse und Böden der Zerstörung der biologischen Vielfalt im Lorenz Nationalpark dem zweitengrößten Asiens und der grassierende Wald rund um die Bergbaustadt Timika. Weiter westlich beutet BP ein offshore Erdgasvorkommen aus. Im gebiet in Merauke verwandelt ein Multinationaler Konzern seit 2010 eine Million Hektar Wald in Anbauflächen für Ölpalmen, Sojabohnen und Zuckerrohr. Die lokale Bevölkerung wird vertrieben. Seit 1980 wurde bereits ¼ des Gebiets entwaldet und mehr als die Hälfte befindet sich in einer kritischen Umweltsituation. So dann führte die Indonesische Regierung eine offensive Bevölkerungspolitik durch die sog. Transmigrasi. 1960 machten die Papua 95 % der lokalen Bevölkerung aus. Inzwischen sind sie nur noch 69 % und sogar nur noch 49 % in der Provinz West Papua. Zwischen 1970 und 2010 hatte man etwa 750.000 Menschen von den bevölkerungsreichsten Inseln wie Java, Sulawesi und den Molukken in die Küsten der Region umgesiedelt, um diese ins indonesische Staatsgebiet einzubinden. 2015 beendete Präsiden Widodo zwar diese Politik aber die individuelle Migration geht weiter. Die Mehrheit bilden die Papua nur noch in den Bergregionen im Zentrum. In den reicheren Großstädten auch in der Hauptstadt Jayapura, in denen es mehr Arbeit gibt, sind die meisten die Muslimischen Javaner in der Mehrheit. Die Papua wurden zunehmend wirtschaftlich und sozial ausgegrenzt. Zwischen 2010 und 2015 betrug des Wirtschaftswachstumes in der Region mehr als 4% das Bruttoinlandsprodukt pro Einwohner ist höher als im Landesdurchschnitt vor in der Provinz West Papua. Allerdings kommt das kaum den Papua zu gute. 28% leben unterhalb der Armutsgrenze. Im Landesdurchschnitt sind das 11 %. 46 % haben keinen elektrischen Strom gegenüber 2 % im Landesdurchschnitt. Der Index der menschlichen Entwicklung ist einer der niedrigsten des ganzen Landes. Im Regierungsbezirk Nduga ist sogar eine der niedrigsten der Welt. Schließlich ist die indonesische Politik gegenüber den Papua eine Mischung aus Unterdrückung wie in Osttimor und Aceh. Zwei weiteren separatistischen Gebieten missbrauchten die Arme die Spezialeinheit Kopassus ihren Auftrag der Aufstandsbekämpfung und es kann regelmäßig zu Massakern, Entführungen und Folter. Seit 1962 kamen 100.000 Menschen ums Leben. Allerdings verübt auch die OPM Anschläge aber in geringerem Ausmaß. 2013 kostete in Puncak Jaya der tödliche Anschlag seit 15 Jahren acht indonesische Soldaten das Leben. Die Arme kontrolliert als stark im Staate große Teile des Holzeinschlags, nimm am Drogenhandel teil, beschützt Privat Unternehmen wie Freeport und geriert sich als Verteidiger der indonesischen Minderheit. Trotzdem werden die Kopassus Einheiten von der US-Armee unterstützt. Wegen des gemeinsamen Kampfes gegen den Terrorismus und Laut Gesetz gelten die Separatisten als Terroristen. Indonesien fördert aber auch die Einbeziehung mancher Papua. Zwischen 2000 und 2008 stiegen die Subvention für die beiden Provinzen um 600 %. Innerhalb von Zehn Jahren stieg die Zahl der Bezirke von 9 auf 38, die der Beamten auf 130.000. die Bürokratie begünstigt Korruption Rivalität unter dem Papua, die Separatisten nur schwer widerstehen können.

Wie sieht die Zukunft aus?

2014 schlossen die meisten Separatisten der vereinigten Befreiungsbewegung für West Papua in Vanuatu an, einem Seit 1980 unabhängigen Staat, der ihre Förderungen unterstützt, genauso wie die Salomonen. 2016 starteten Papua im Exil rund um Benny Wenda die Kampagne Free West Papua. Sie prangerten schleichenden Völkermord durch Umsiedlungen und die Beschlagnahme von Land an und förderten ein von UNO überwachten Referendum. Im März 2017 trug Vanuatu die Misshandlungen durch indonesischen Armee vor den UN Menschenrechtsrat. Aber West Papua ist nicht Ost-Timor, das 2002 unabhängig wurde. Die UNO betrachtet West Neu Guinea nicht als Besetzt.   Die OMP, die größte bewaffnete Gruppe ist schwach und hat weniger 1000 Kämpfer, schätzt man in Jakarta und die Großmächte vor allem die USA schon in Indonesien einen wichtigen wirtschaftlichen und militärischen Partner. So werden die Papua also eher in den Rest des Landes integriert.   70 Prozent der Papua leben weiterhin in den Armeen und ländlichen Bergregionen. Aber Ihre Zahl nimmt ab. Viele wandern in die Küstenstädte ab, die in die Javanische Kultur integriert, sind gleiche Kleidung, gleiche Medien und die Gleiche Ernährung wie im Rest des Landes. Zwischen Mimika dem reichsten Bezirk an der Küste und Puncak Jaya dem ärmsten Bezirk im Zentrum mit trägt das Wohlstandgefälle 1 zu 28. Der Anpassungsdruck wird durch eine neue Pro indonesischen Führungseliten bei den Papua noch verstärkt. Und er hat folgen; 40 % der Einwohner der Region sprechen inzwischen indonesisch die Sprache der Wirtschaft. Auch der islamische Glaube der Einwanderer verbreitet sich immer mehr. Ihm gehören bereits 38 % der gläubigen in der Provinz West Papua und 16 % in Provinz west Papua an. Und das führt zu Spannungen den christlichen Papua.
Diesem Dilemma sieht sich Western China also ausgesetzt, dass ihnen gelingt seine Unabhängigkeit zu erlangen wie das benachbarte Papua Neu Guinea ist alles andere als sicher. Statt einer unerreichbaren Unabhängigkeit sollte das Ziel eher eine Normalisierung der Lage in West Neuguinea sein. Denn nur so könnten danach seine Einwohner, ob Papua oder nicht, endlich in einem Rechtsstaat leben.

Mehr zum heutigen Thema erfahren Sie L’Indonesie de la Prehlstoire a la presidence de Jokowi von Alain Requier beim Verlag Lammtan von September 2017, das such ausführlichen beruhende Buch bietet in französischer Sprache einen umfassenden Überblick über den Inselstaat der so groß ist wie Europa.
Damit endet unsere Sendung, die eine Woche lang auf arte.tv abrufbar ist. Wir sehen uns nächste Woche wieder am gleichen Ort und gleichen Zeit alles gut.

Quelle : https://www.youtube.com/watch?v=22OSp68r-gU


    
 

Ulang Tahun Gereja Katolik „Nama Maria“ Löbau

Ulang Tahun Gereja Katolik „Nama Maria“ Löbau

(18/092017-Löbau) Pembangunan Gereja Katolik „Nama Maria“ dimulai dengan peletakan Batu pertama pada tanggal 18 September 1890. Gereja ini disebut juga „Doppelgängerin“ atau kembaran dari sebuah Gereja Katolik di Selzthal di Steiermark/ Austria. Gereja dirancan oleh para Pater Benedikt dari Kloster Emmaus di Prag, Ceko. Gereja yang dibangun dalam 2 tahun ini kemudian pada tahun 1892 diresmikan oleh Uskup Dr. Ludwig Wahl. Baru Pada tahun 1906 dijadikan sebuah paroki yang disebuk Paroki „ Nama Maria“ Löbau.
Jika kita berjalan di jalan August-Bebel-Straße , dimana gereja ini berada. Kita akan dikagetkan dengan sebuah gerbang kecil yang menuju ke sebuah pintu kecil didepan Gereja. Namun pintu ini bukanlah pintu utama. Pintu utama Gereja yang sebenarnya berada di berlakang Gereja itu. Untuk itu orang harus berjalan melalui jalan itu lurus kemudian menunju arah samping Gereja, untuk masuk ke Gereja ini, ini dikarenakan Arsiterktur Gereja yang diranacang sedemikian rupa. Dengan begitu orang menyebutnya dengan sebutan „Die Kirche steht Verkehrtherum“ atau Gereja yang berdiri berbalik ke belakang.
Mayoritas Umat digereja ini para pensionan Pegawai dan sangat sedikit sekali orang muda yang terlihat atau berpartisiasi. Ini kemungkinan dikarenakan revolusi yang cepat dan nilai-nilai kehidupan dari Gereja yang mustinya hidup dalam setiap individu itu mulai redup. Juga disebabkan oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dan ketidakmanpuan seorang individu mewariskan nilai-nilai sosial dan budaya yang baik dari generasi sebelumnya.
Walaupun begitu, acara perayaan kali ini sangatlah meriah. Kami Chor dari Paroki Zittau juga mengambil bagian dalam misa yang dirayakan hari, beberapa Pastor dari Paroki terdekat juga diundang dalam acara Perayaan hari lahir Gereja Katolik „Nama Maria“ ini. (Guti)
 

Apa perbedaan antara aliran agama Katolik dan Protestan (Evangelis)?

Apa perbedaan antara aliran agama Katolik dan Protestan (Evangelis)?


Sekali lagi bahwa bagi mereka yang beragama Katolik atau Kristen Protestan adalah Kristen. Mereka percaya akan Tuhan dan Putranya, Yesus Kristus. Keduanya Dogma ini adalah arah dari Kepecayaan orang Kristen. Orang Katolik dan Protestan satu sama lain percaya bahwa Tuhan menerima dan mencintai kami. Juga ketika kita berdoa. Ciri orang kristen pada umumnya adalah mengasihi orang lain dan mengedepankan Dioalog dalam menyelesaikan konflik dengan jalan Damai. Dan Yesus sendiri selalui menjadi tokoh panutan dan contoh untuk mereka.

Dahulu mereka semua Katolik. 500 tahun lalu ini berubah. Jika ada yang ingin mengali dan mengerti lebih jauh, akan lebih baik jika mengenal sosok Marten Luther lebih dalam dan baik. Ketika itu dia seorang Biarawan yang memberontak. Dia memperhatikan bahwa Emperium Gereka ketika itu diperlakukan lebih baik dari pada senjata. Kemudian dia juga ingin bahwa umat dapat membaca Alkitab. Yang sekarang adalah buku terpenting dalam Gereja ini tidak dapat di baca dalam bahasa Jerman ketika itu. Oleh karenanya, hanya golongan terpelajar yang dapat membaca buku itu. Itu dirubah oleh Martin Luther. Dari Protes-Protesnya ketika itu bediriliah beberapa aliran lain selain agama katolik. Ketika itu Gereja Evangelis yang kemudian disebut Gereja Protestan.

Gereja Evangelis dan katolik mempunyai berbagai kesamaan-kesamaan. Tapi juga perbedaan yang bisa ditemukan. Misalanya kemudian Gereja Protestan tidak mempunyai Paus. Kemudian bagi mereka juga tidak mempunyai Parlement, yang membuat keputusan, sama halnya seperti Bundestag (DPR) [1]. Untuk orang Katolik, Paus ialah pemimpin Gereja tertinggi. Dia yang menentukan, apa yang bagi Gereja penting, dan apa saja yang harus orang Katolik perhatikan .

Bagi orang-orang Protestan, laki-laki dan perempuan dapat menjadi Pendeta dan Gembala atau pemimpin Ibadah/Misa. Kemudian mereka mereka juga diperbolehkan menikah dan mempunyai anak. Didalam Gereja Katolik hanya laki-laki yang boleh menjadi Pastor/Pendeta dan mereka tidak boleh menikah. Juga pada Alkitab ada perbedaan. Gereja Protestan misalnya tidak mempunyai Kitab Judit dan tidak memiliki kitab kebijaksanaan (Deutrokanonika). Atau dalam bahasa yunani diartikan „termasuk kanon kedua“ [2].

Perbedaan terbesar terletak ada di Ekaristi atau sakrament [4]. Dalam setiap Misa setiap umat menuju ke Altar. Pastor mengingatkan akan penjamuan terakhir, pada malam Jesus menghabiskan waktunya bersama rasul-rasulnya, sebelum Dia disalipkan. Ketika itu Dia membawa roti dan memberikan kepada Murid-Murid-Nya. Juga memberi Anggur kepada Mereka. Kedua santapan ini mereprensentasikan Tubuh dan darah Yesus, yang dia serahkan, agar dosa kita bisa ditebus.

Orang dari Protestan merayakan Perjamuan malam itu juga. Mereka mengerti Roti dan Anggur sebagai sebuah lambang. Mereka mereprensentasikan itu dengan tubuh dan darah Yesus. Dengan itu mereka ingin menujukan, bahwa Yesus sangat mencintai kita, oleh karenanya Dia mati dikayu salib. Orang Katolik percaya, bahwa Hosti dalam perayaan Ekaristi menjadi Tubuh Yesus dan Anggur sebagai darah Yesus.

Orang Katolik dan Protestan juga membuat perbedaan pada pasangan suami-istri. Nikah katolik, kemudian diasumsikan bahwa ikatan didepan Tuhan ini bersifat kekal dan abadi.

Jika ada Suami-istri dalam perjalan hidup bersama mereka, mereka memilih bercerai maka mereka tidak diperkenakan untuk menerima Hosti. Sedang Gereja Protestan melihat ini berbeda. Mereka yang sudah bercerai tidak memiliki pengecualian dalam menerima Hosti dan kemudian mereka juga nantinya diperbolehkan menikah [3].(Gusti Giyai)

Video courtesy of Martin Luther.

Penulis adalah Mahsiswa Teknik disalah satu Universitas di Jerman

Sumber:

  1. https://de.wikipedia.org/wiki/Deutscher_Bundestag
  2. http://membaca-alkitab-kristen-katolik.blogspot.de/2014/12/perbedaan-kitab-katolik-vs-protestan.html
  3. http://www.epd.de/zentralredaktion/epd-zentralredaktion/was-ist-der-unterschied-zwischen-evangelisch-und-katholisch
  4. http://www.kaj.or.id/dokumen/sakramen-sakramen/sakramen-ekaristi
 
 
Support : SAVE THE ENVIROMENT OF WEST PAPUA | INFO PAPUA | KNPB NEWS
Copyright © 2011. PAPUA TO OUR WORLD - All Rights Reserved
Template Created by Mr.YOGIX FWP Published by AGUSTINUS GIYAI
Proudly powered by Blogger