Latest Post

Kajian terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang Akan Diatur dalam Perda terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat dan Dampaknya terhadap Aspek Beban Keuangan Negara/Daerah

Skema Dana Otonomi Khusus Papua Tengah untuk Perpustakaan
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Skema Dana Otonomi Khusus Papua Tengah
untuk Sektor Perpustakaan

Analisis alokasi Dana Otsus Papua Tengah Tahun 2024 (Rp578,3 miliar) berdasarkan
PMK No. 33 Tahun 2024 dan UU No. 2 Tahun 2021, serta potensinya bagi pembiayaan perpustakaan.

Total Dana Otsus Papua Tengah 2024
Rp578,3 M
Alokasi dari Kemenkeu RI
Minimum untuk Pendidikan (30%)
Rp173,5 M
Termasuk perpustakaan & literasi OAP
Basis Hukum Dana Otsus
2,25% DAU
UU No. 2 Tahun 2021 — per tahun nasional
Estimasi Perpustakaan (5% Pend.)
Rp8,7 M
Potensi minimal dari Dana Otsus per tahun
Komposisi Penggunaan Dana Otsus Papua Tengah 2024 (Rp578,3 M)
Pendidikan min. 30% (Rp173,5 M)
Kesehatan & Pemberdayaan min. 20% (Rp115,7 M)
Infrastruktur & ekonomi (~Rp200 M)
Lainnya / Afirmasi OAP (Rp89,1 M)
Sektor Pendidikan (min. wajib)
30%
≥ Rp173,5 miliar
Mencakup perpustakaan, literasi, beasiswa OAP, dan pengembangan SDM pendidik
Kesehatan & Pemberdayaan (min. wajib)
20%
≥ Rp115,7 miliar
Layanan kesehatan dasar, pemberdayaan ekonomi perempuan OAP
Infrastruktur & Ekonomi
~35%
~Rp200 miliar
Infrastruktur dasar, konektivitas, pengembangan ekonomi lokal
Afirmasi OAP & Lainnya
~15%
~Rp89 miliar
Program afirmasi OAP, kelembagaan adat, budaya
Potensi alokasi untuk perpustakaan: Apabila 5% dari porsi pendidikan Dana Otsus (Rp173,5 M) diarahkan ke perpustakaan dan literasi, diperoleh sekitar Rp8,7 miliar per tahun — angka yang memadai untuk membiayai perpustakaan keliling, pelatihan pustakawan OAP, digitalisasi koleksi, dan pengembangan 50–100 perpustakaan kampung secara bertahap. Jika ditingkatkan menjadi 10%, potensinya mencapai Rp17,3 miliar per tahun.
Mekanisme Penggunaan Dana Otsus untuk Perpustakaan
Langkah 01
Dasar hukum
Perda Perpustakaan mencantumkan program perpustakaan dalam Rencana Aksi Papua (RAP) dan Musrenbang Otsus
Langkah 02
Perencanaan
Program perpustakaan masuk dalam RPJMD Provinsi Papua Tengah dan Renja Dinas terkait
Langkah 03
Alokasi APBD
Dana Otsus dialokasikan dalam APBD dengan nomenklatur khusus perpustakaan dan literasi OAP
Langkah 04
Implementasi
Dinas Perpustakaan melaksanakan program dengan akuntabilitas laporan berkala kepada DPRD & Kemenkeu
Catatan regulasi: PMK No. 33 Tahun 2024 mewajibkan penyusunan Rencana Aksi Papua (RAP) yang berpedoman pada Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP). Perda Perpustakaan yang memasukkan program literasi dan perpustakaan dalam dokumen perencanaan ini akan membuka akses legal penggunaan Dana Otsus untuk sektor perpustakaan secara terstruktur dan akuntabel.
Landasan Hukum Pembiayaan Perpustakaan dari Dana Otsus
Regulasi Ketentuan Relevan Kategori
UU No. 2 Tahun 2021 Dana Otsus 2,25% DAU nasional; min. 30% pendidikan, min. 20% kesehatan & pemberdayaan Dasar
PMK No. 33 Tahun 2024 Wajib Rencana Aksi Papua (RAP); perpustakaan dapat masuk klaster pendidikan & pemberdayaan Teknis
UU No. 43 Tahun 2007 Pemerintah provinsi wajib menjamin penyelenggaraan & pengembangan perpustakaan di daerahnya Sektoral
UU No. 23 Tahun 2014 Perpustakaan = urusan wajib non-pelayanan dasar; menjadi tanggung jawab provinsi Sektoral
UU No. 15 Tahun 2022 Pembentukan Provinsi Papua Tengah — seluruh urusan wajib termasuk perpustakaan berlaku penuh Pembentukan
Raperda Perpustakaan Papua Tengah Mengintegrasikan perpustakaan dalam RAP, RPJMD, dan Renja — kunci akses Dana Otsus Target regulasi
Estimasi Kebutuhan Anggaran Perpustakaan Papua Tengah
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Estimasi Kebutuhan Anggaran Perpustakaan
Provinsi Papua Tengah (5 Tahun Pertama)

Proyeksi kebutuhan anggaran penyelenggaraan perpustakaan di Provinsi Papua Tengah
berdasarkan komponen utama dan fase implementasi Perda selama lima tahun pertama.

Estimasi Tahun 1 (rintisan)
Rp26–44 M
Investasi infrastruktur awal terbesar
Estimasi Tahun 2–3 (pengembangan)
Rp13–25 M
Infrastruktur sudah sebagian terbangun
Estimasi Tahun 4–5 (konsolidasi)
Rp10–18 M
Fokus operasional & peningkatan mutu
Total 5 Tahun (estimasi)
Rp72–132 M
Multi-sumber: APBD + Otsus + Perpusnas
Fase 1
Tahun 1 — Rintisan
Rp26–44 M
Pembangunan gedung provinsi, pengadaan koleksi awal, rekrutmen & pelatihan pustakawan OAP perdana, digitalisasi tahap awal
Fase 2
Tahun 2–3 — Pengembangan
Rp13–25 M / thn
Ekspansi perpustakaan kampung, penguatan SDM lanjutan, pengembangan koleksi muatan lokal, perpustakaan keliling operasional
Fase 3
Tahun 4–5 — Konsolidasi
Rp10–18 M / thn
Standarisasi layanan, akreditasi perpustakaan kabupaten, program literasi komunitas berkelanjutan, evaluasi IPLM daerah
Tabel 1 — Rincian Estimasi Anggaran per Komponen (dalam Miliar Rupiah)
Komponen Anggaran Tahun 1 Tahun 2–3 Tahun 4–5 Sumber Dana
🏛 Gedung & renovasi perpustakaan provinsi Rp15–25 M Rp5–10 M Rp3–5 M APBD / DTI
🏘 Perpustakaan kampung (per unit) Rp0,5–1 M Rp0,5–1 M Rp0,5 M Dana Otsus
📚 Pengembangan koleksi bahan pustaka Rp3–5 M Rp2–4 M Rp2–4 M APBD / Otsus
👩‍💼 Pelatihan & sertifikasi pustakawan OAP Rp2–3 M Rp1,5–2 M Rp1–2 M Dana Otsus
💻 Digitalisasi koleksi & e-library Rp2–4 M Rp1–3 M Rp1–2 M APBD / Perpusnas
🚌 Perpustakaan keliling (unit kendaraan) Rp1,5–3 M Rp0,5–1 M Rp0,5 M APBD
📖 Program literasi & pemberdayaan masyarakat Rp1–2 M Rp1–2 M Rp1,5–3 M Dana Otsus
🎭 Dokumentasi budaya & kearifan lokal OAP Rp1–2 M Rp1–2 M Rp1–2 M Otsus / Budpar
Total estimasi per tahun Rp26–44 M Rp13–25 M Rp10–18 M Multi-sumber
Proyeksi Tren Anggaran Perpustakaan 5 Tahun (Batas Bawah & Batas Atas)
Batas atas estimasi (Rp M)
Batas bawah estimasi (Rp M)
Keterangan sumber dana: APBD / DTI Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Papua Tengah & Dana Transfer Infrastruktur.   Dana Otsus Dana Otonomi Khusus Papua (PMK No. 33/2024) — min. 30% untuk pendidikan.   Multi-sumber Kombinasi APBD, Dana Otsus, dan sumber lain.   Perpusnas Bantuan teknis & hibah dari Perpustakaan Nasional RI.
Catatan metodologi: Estimasi ini dibangun berdasarkan analogi biaya perpustakaan daerah di provinsi-provinsi muda Indonesia (Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, Papua Selatan) dan standar biaya satuan Perpustakaan Nasional RI. Nilai aktual akan bergantung pada APBD Provinsi Papua Tengah yang belum dipublikasikan secara rinci, kondisi geografis yang menentukan biaya logistik, serta prioritas pemerintah daerah dalam RPJMD. Kajian anggaran yang lebih presisi memerlukan data APBD resmi dan studi kelayakan teknis.
Rantai Dampak Perda Perpustakaan Papua Tengah
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Rantai Dampak Perda Perpustakaan
Provinsi Papua Tengah

Diagram logika intervensi menunjukkan jalur sebab-akibat dari penetapan Perda Perpustakaan
hingga terwujudnya percepatan pembangunan SDM dan pelestarian budaya OAP Papua Tengah.

Regulasi
Output
Outcome
Dampak
Tujuan
Perda Perpustakaan Provinsi Papua Tengah Perpustakaan provinsi & kampung terbangun SDM pustakawan OAP terlatih & bersertifikat Koleksi & program literasi muatan lokal Akses informasi merata ke pedalaman Kemampuan baca & literasi meningkat Pelestarian budaya kearifan lokal OAP SDM OAP lebih kompetitif Inklusi sosial Kesenjangan berkurang IPM meningkat Mendekati rata-rata nasional Identitas budaya OAP terjaga & lestari Percepatan pembangunan SDM Papua Tengah & pemenuhan amanat UU No. 15 Tahun 2022
Regulasi (Perda)
Output langsung
Outcome jangka menengah
Dampak struktural
Tujuan akhir
Catatan kerangka logika: Diagram ini menggunakan pendekatan Theory of Change (ToC) yang menggambarkan jalur kausalitas dari intervensi regulasi (Perda) menuju perubahan yang diinginkan. Setiap lapisan merupakan prasyarat bagi lapisan berikutnya — tanpa output perpustakaan yang terbangun, outcome literasi tidak akan tercapai; dan tanpa outcome literasi yang meningkat, dampak struktural peningkatan IPM dan inklusi sosial tidak akan terwujud.
Penjelasan setiap lapisan rantai dampak
Lapisan 1 — Regulasi
Perda Perpustakaan Papua Tengah
Instrumen hukum yang mengikat seluruh pemangku kepentingan untuk mengatur, membiayai, dan mengawasi penyelenggaraan perpustakaan secara sistemik dan berkelanjutan di 8 kabupaten.
Lapisan 2 — Output
Infrastruktur, SDM & Koleksi
Perpustakaan provinsi dan kampung yang terbangun, pustakawan OAP yang terlatih, serta koleksi muatan lokal Papua yang terdokumentasi dan tersedia untuk masyarakat.
Lapisan 3 — Outcome
Akses, Literasi & Pelestarian Budaya
Masyarakat pedalaman mendapatkan akses informasi; kemampuan membaca meningkat; pengetahuan tradisional OAP terdokumentasi; dan SDM OAP memiliki keterampilan abad ke-21.
Lapisan 4 — Dampak
Inklusi, IPM & Identitas Budaya
Kesenjangan sosial berkurang, IPM kabupaten-kabupaten Papua Tengah meningkat mendekati rata-rata nasional, dan identitas budaya serta kearifan lokal OAP terjaga untuk generasi mendatang.
Lapisan 5 — Tujuan Akhir
Percepatan Pembangunan SDM Papua Tengah
Pemenuhan amanat UU No. 15 Tahun 2022 tentang harkat dan martabat OAP, serta kontribusi nyata perpustakaan terhadap agenda pembangunan nasional di Tanah Papua.
Kajian Implikasi Perda Perpustakaan

Kajian terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru yang Akan Diatur dalam Perda terhadap Aspek Kehidupan Masyarakat dan Dampaknya terhadap Aspek Beban Keuangan Negara/Daerah


1. Implikasi Sosial-Budaya Penguatan Perpustakaan bagi Masyarakat Papua Tengah

Penguatan perpustakaan melalui regulasi daerah akan menghasilkan implikasi sosial yang luas dan mendasar bagi masyarakat Papua Tengah, jauh melampaui sekadar peningkatan jumlah kunjungan ke gedung perpustakaan.

Dalam perspektif sosiologi, perpustakaan berfungsi sebagai institusi pelayanan publik yang bercorak inklusif—terbuka bagi semua orang tanpa mensyaratkan status sosial, tingkat pendidikan, atau kemampuan ekonomi.

Dalam konteks Papua Tengah, di mana stratifikasi sosial berbasis klen dan marga masih kuat, perpustakaan inklusif dapat menjadi ruang publik paling demokratis, menyediakan akses informasi yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.

Perpustakaan juga berperan sebagai katalis perubahan budaya menuju budaya membaca melalui program seperti storytelling, lomba bercerita, dan perpustakaan keliling.

Pada aspek budaya, perpustakaan menjadi benteng pelestarian identitas lokal dengan menyediakan koleksi berbasis muatan lokal dan dokumentasi budaya Papua.


2. Implikasi terhadap Peningkatan Kualitas Pendidikan dan SDM OAP

Penguatan perpustakaan memiliki hubungan erat dengan peningkatan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter. Budaya literasi mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan integritas peserta didik.

Perda yang mewajibkan perpustakaan di setiap satuan pendidikan akan meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa, terutama di Papua Tengah yang masih menghadapi tantangan besar dalam kemampuan membaca.

Perpustakaan juga berfungsi sebagai sarana pendidikan nonformal yang mendukung literasi informasi masyarakat, terutama di wilayah 3T.

Selain itu, regulasi ini akan membuka peluang pengembangan SDM pustakawan dari kalangan Orang Asli Papua (OAP), menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat relevansi layanan perpustakaan dengan konteks lokal.


3. Implikasi terhadap Pelestarian Budaya dan Kearifan Lokal Papua

Perpustakaan memiliki fungsi strategis dalam pelestarian budaya melalui pengumpulan, pengolahan, dan penyebarluasan pengetahuan lintas generasi.

Dalam konteks Papua Tengah, perpustakaan dapat menjadi pusat dokumentasi tradisi lisan, bahasa daerah, dan pengetahuan lokal yang rentan punah.

Perpustakaan juga dapat berperan dalam mendukung ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal melalui penyediaan informasi dan sumber belajar bagi masyarakat.


4. Perkiraan Kebutuhan Anggaran Daerah (APBD Papua Tengah)

Estimasi kebutuhan anggaran perpustakaan didasarkan pada perbandingan dengan provinsi baru lainnya di kawasan timur Indonesia.

Kebutuhan anggaran pada tahun pertama diperkirakan berkisar antara Rp26–44 miliar, dengan penurunan pada tahun berikutnya setelah infrastruktur dasar terbentuk.

Dengan asumsi APBD Papua Tengah sebesar Rp2–3 triliun dan alokasi pendidikan minimal 20%, maka anggaran pendidikan mencapai Rp400–600 miliar per tahun.

Alokasi 5–10% dari anggaran pendidikan untuk perpustakaan akan menghasilkan Rp20–60 miliar per tahun, yang cukup untuk mendukung program literasi secara komprehensif.


5. Potensi Dukungan Dana Otonomi Khusus Papua

Dana Otonomi Khusus merupakan sumber pembiayaan strategis bagi pengembangan perpustakaan di Papua Tengah.

Pada tahun 2024, Papua Tengah menerima alokasi Dana Otsus sebesar Rp578,3 miliar, dengan minimal 30% dialokasikan untuk pendidikan.

Hal ini berarti setidaknya Rp173,5 miliar tersedia untuk sektor pendidikan, termasuk pengembangan perpustakaan sebagai bagian dari pendidikan nonformal.

Perda Perpustakaan yang mengintegrasikan program literasi dengan perencanaan pembangunan daerah akan membuka akses yang lebih besar terhadap Dana Otsus secara terstruktur dan berkelanjutan.


Referensi (Gaya APA)

  • Agustiani, D. H., & Wicaksono, M. F. (2022). Pemberdayaan masyarakat berbasis literasi.
  • Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Papua. (2024). Press release APBN Papua.
  • Kementerian Dalam Negeri. (2024). Permendagri Nomor 15 Tahun 2024.
  • Kementerian Keuangan RI. (2024). PMK Nomor 33 Tahun 2024.
  • Kurniawan, M. A., & Pratiwi, S. S. (2025). Budaya literasi melalui perpustakaan jalanan.
  • Nasution, F., & Hidayat, A. (2023). Literasi informasi masyarakat.
  • Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus Papua.
 
Profil IPM Papua Tengah per Kabupaten
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Kabupaten di Provinsi Papua Tengah

Perbandingan IPM delapan kabupaten pembentuk Provinsi Papua Tengah (2022–2024)
terhadap rata-rata nasional, sebagai konteks urgensi pembangunan literasi daerah.

IPM Papua Tengah 2024
60,25
+1,36% dari 2023
Rata-rata Nasional 2024
74,26
IPM Tertinggi (Mimika)
72,10
Mendekati nasional
IPM Terendah (Puncak)
43,17
Sangat rendah
Kesenjangan Internal
28,93
Poin (Mimika – Puncak)
IPM per Kabupaten vs Rata-rata Nasional
IPM ≥ 70 (sedang–tinggi)
IPM 50–69 (rendah)
IPM < 50 (sangat rendah)
Nasional 74,26
≥ 70 Sedang–Tinggi: Mimika, Nabire
50–69 Rendah: Paniai, Dogiyai
< 50 Sangat Rendah: Deiyai, Intan Jaya, Puncak Jaya, Puncak
Analisis Kesenjangan IPM terhadap Rata-rata Nasional (74,26)
Mimika
−2,16
Nabire
−3,42
Paniai
−18,19
Dogiyai
−19,26
Deiyai
−24,30
Intan Jaya
−25,27
Puncak Jaya
−25,92
Puncak
−31,09
Catatan: Enam dari delapan kabupaten di Papua Tengah memiliki kesenjangan IPM lebih dari 18 poin di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini memperkuat urgensi regulasi perpustakaan yang afirmatif dan berpihak pada wilayah-wilayah dengan IPM sangat rendah, khususnya empat kabupaten pedalaman yang hanya dapat dijangkau melalui penerbangan perintis.
Komparasi Perpustakaan Terakreditasi Nasional
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Perpustakaan Terakreditasi:
Papua Tengah vs Provinsi Lain

Perbandingan jumlah perpustakaan terakreditasi antar provinsi terpilih (2023),
menunjukkan kesenjangan ekstrem antara provinsi dengan infrastruktur literasi matang dan provinsi baru Papua Tengah.

Papua Tengah (terakreditasi)
0
Data BPS 2023
Jawa Timur (terbanyak)
2.691
Perpustakaan terakreditasi
Papua Pegunungan
0
Senasib Papua Tengah
DKI Jakarta
658
Perpustakaan terakreditasi
Jumlah Perpustakaan Terakreditasi per Provinsi (2023)
Provinsi lain
Papua Tengah & Papua Pegunungan = 0
Temuan kritis: Papua Tengah dan Papua Pegunungan adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang tercatat memiliki nol (0) perpustakaan terakreditasi berdasarkan data BPS 2023. Kondisi ini bukan sekadar persoalan akreditasi formal, melainkan cerminan ketiadaan infrastruktur perpustakaan yang terstandarisasi di seluruh wilayah kedua provinsi tersebut.
Data Lengkap — Perpustakaan Terakreditasi per Provinsi Terpilih (2023)
# Provinsi Jml. Terakreditasi Kategori Kawasan
01 1Jawa Timur 2.691 Sangat tinggi Jawa
02 2Jawa Tengah 1.594 Sangat tinggi Jawa
03 3Jawa Barat 1.120 Tinggi Jawa
04 4DI Yogyakarta 900 Tinggi Jawa
05 5DKI Jakarta 658 Sedang Jawa
06 Papua Selatan 1 Sangat rendah Papua
07 Papua Tengah 0 Tidak ada Papua
08 Papua Pegunungan 0 Tidak ada Papua
Implikasi regulasi: Ketiadaan perpustakaan terakreditasi di Papua Tengah menjadi argumen yuridis yang kuat bahwa penyelenggaraan perpustakaan tidak dapat lagi diserahkan pada inisiatif sukarela daerah. Diperlukan Peraturan Daerah yang secara mengikat mewajibkan pembentukan, standarisasi, dan akreditasi perpustakaan di seluruh wilayah Provinsi Papua Tengah.
Distribusi Perpustakaan Nasional & IPLM Papua Tengah
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Distribusi Perpustakaan Nasional
& Indeks Literasi Papua Tengah

Sebaran 219.415 perpustakaan di Indonesia menurut pulau (2024) dan perbandingan
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) antar provinsi terpilih.

219.415
Total perpustakaan di Indonesia (2024) — Papua Tengah menyumbang nol perpustakaan terakreditasi dari angka tersebut.
Distribusi per Pulau / Kawasan
1,21%
Seluruh Papua hanya menyumbang 1,21% dari total perpustakaan nasional — dan mayoritas terkonsentrasi di Papua induk (Jayapura), bukan di Papua Tengah.
Perbandingan IPLM Antar Provinsi (2023–2024)
Sulawesi Selatan (tertinggi) 86,74
DI Yogyakarta 85,09
Rata-rata Nasional 2024 73,52
Maluku Utara 61,20
Papua (induk) 42,30
Papua Tengah (estimasi) ~10–15
* Estimasi IPLM Papua Tengah didasarkan pada: 0 perpustakaan terakreditasi (BPS 2023), angka buta aksara 15,31% (BPS 2024), dan ketiadaan regulasi daerah perpustakaan. IPLM resmi belum tersedia karena status provinsi baru.
Profil Demografis Provinsi Papua Tengah
Naskah Akademik · Raperda Perpustakaan

Profil Wilayah & Demografis
Provinsi Papua Tengah

Delapan kabupaten pembentuk provinsi berdasarkan UU No. 15 Tahun 2022,
beserta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan kondisi aksesibilitas wilayah.

IPM Prov. Papua Tengah 2024
60,25
Nasional: 74,26
Angka Kemiskinan (Mar. 2024)
29,76%
Nasional: 9,36%
Buta Aksara ≥15 Thn (2024)
15,31%
Nasional: 3,33%
Perpustakaan Terakreditasi
0
Data BPS 2023
Jumlah Kabupaten
8
Ibu kota: Nabire
≥ 70 IPM Sedang–Tinggi
50–69 IPM Rendah
< 50 IPM Sangat Rendah
# Kabupaten Ibu Kota Luas (km²) IPM 2022/23 Wilayah Adat Aksesibilitas
01 Mimika Timika 19.592 72,10 Mee Pago Jalan darat / udara
02 Nabire Nabire 7.900 70,84 Saireri / Mee Pago Jalan darat / udara
03 Paniai Enarotali 14.683 56,07 Mee Pago Udara + jalan terbatas
04 Dogiyai Kigamani 4.244 55,00 Mee Pago Udara + jalan terbatas
05 Deiyai Tigi 2.812 49,96 Mee Pago Udara perintis
06 Intan Jaya Sugapa 9.336 48,99 Mee Pago Udara perintis
07 Puncak Jaya Mulia 14.009 48,34 Lapago Udara perintis
08 Puncak Ilaga 8.100 43,17 Lapago Udara perintis
Kajian Teoritis dan Praktik Empiris

KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

C. Kajian terhadap Praktik Penyelenggaraan, Kondisi yang Ada, serta Permasalahan yang Dihadapi Masyarakat


1. Profil Wilayah dan Demografis Provinsi Papua Tengah

Provinsi Papua Tengah terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2022, menggabungkan delapan kabupaten yang membentang dari pesisir utara hingga deretan pegunungan tertinggi di Indonesia. Tabel di atas merangkum profil demografis dan kondisi pembangunan manusia masing-masing kabupaten.

Secara geografis, wilayah Papua Tengah memiliki karakter yang sangat beragam: Kabupaten Nabire di pesisir utara yang relatif mudah diakses via jalur darat dan laut, Kabupaten Mimika yang memiliki bandara internasional berkat kehadiran PT Freeport, dan lima kabupaten lainnya di kawasan pegunungan tengah yang hanya dapat dijangkau melalui penerbangan perintis atau perjalanan kaki berhari-hari.

Kondisi IPM delapan kabupaten pembentuk Provinsi Papua Tengah masih sangat rendah, dengan IPM Nabire 69,15; Dogiyai 55; Deiyai 49,96; Paniai 56,07; Intan Jaya 48,99; Puncak Jaya 48,34; dan Puncak 43,17, mencerminkan kesenjangan pembangunan yang sangat dalam antar wilayah.

Pada tahun 2024, IPM Provinsi Papua Tengah secara keseluruhan mencapai 60,25, meningkat 0,81 poin atau 1,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun masih jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 74,26.

Kesenjangan IPM antara kabupaten terbaik (Mimika: 72,10) dan terburuk (Puncak: 43,17) mencapai hampir 29 poin, menandakan bahwa ketimpangan internal Papua Tengah bahkan lebih parah dari ketimpangan antara Papua Tengah dengan nasional.

Kondisi ini menjadi kerangka penting dalam merancang kebijakan perpustakaan yang tidak boleh seragam, melainkan harus responsif terhadap konteks masing-masing kabupaten.


2. Kondisi Penyelenggaraan Perpustakaan Saat Ini

a. Perpustakaan Umum Provinsi dan Kabupaten/Kota

Temuan paling mencolok dalam kajian kondisi penyelenggaraan perpustakaan di Papua Tengah adalah fakta yang sangat fundamental: berdasarkan data BPS tahun 2023, Papua Tengah dan Papua Pegunungan merupakan dua provinsi yang sama sekali tidak memiliki perpustakaan terakreditasi di seluruh wilayahnya.

Angka nol ini bukan sekadar soal akreditasi formal, melainkan mencerminkan kondisi kelembagaan perpustakaan yang belum terbangun secara sistemik sejak provinsi ini berdiri.

Sebagai provinsi baru, Papua Tengah mewarisi ketiadaan infrastruktur perpustakaan ini tanpa memiliki mandat regulatif daerah yang dapat segera menggerakkan pembenahan sistemik.

b. Perpustakaan Sekolah dan Madrasah

Ketersediaan perpustakaan di jenjang pendidikan dasar dan menengah di Papua Tengah sangat memprihatinkan. Porsi Papua yang hanya menyumbang 1,21 persen dari total perpustakaan nasional menunjukkan ketimpangan yang signifikan.

Banyak sekolah di pedalaman Papua Tengah beroperasi tanpa koleksi buku memadai, tanpa ruang perpustakaan, dan tanpa tenaga pengelola terlatih, yang berdampak langsung pada rendahnya kemampuan membaca siswa.

c. Perpustakaan Desa/Kampung

Perpustakaan desa atau kampung merupakan titik layanan krusial, namun keberadaannya hampir tidak teridentifikasi secara formal dalam sistem Nomor Pokok Perpustakaan (NPP).

Taman baca masyarakat umumnya diinisiasi oleh LSM, gereja, atau relawan tanpa dukungan regulasi dan anggaran yang sistemik dari pemerintah daerah.

d. Perpustakaan Khusus dan Perguruan Tinggi

Papua Tengah memiliki beberapa perguruan tinggi yang wajib menyelenggarakan perpustakaan sesuai UU No. 43 Tahun 2007, namun menghadapi tantangan dalam koleksi, kemutakhiran bahan, dan akses layanan.


3. Data Tingkat Literasi dan Minat Baca

Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional meningkat signifikan, namun tidak mencerminkan kondisi Papua Tengah yang masih berada pada kategori sangat rendah hingga rendah.

Dengan nol perpustakaan terakreditasi dan angka buta aksara 15,31 persen, hampir semua komponen penyusun IPLM berada pada titik terendah di wilayah ini.


4. Kesenjangan Akses Perpustakaan

Kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedalaman di Papua Tengah sangat ekstrem. Distribusi perpustakaan nasional yang timpang memperparah kondisi ini, dengan Papua hanya memiliki 1,21 persen dari total perpustakaan nasional.


5. Keterbatasan SDM Pustakawan

Keterbatasan SDM pustakawan menjadi salah satu hambatan utama. Formasi pustakawan sangat terbatas, dan banyak perpustakaan dikelola oleh tenaga non-profesional, yang berdampak pada kualitas layanan.


6. Permasalahan Anggaran dan Infrastruktur

Kapasitas fiskal Papua Tengah yang terbatas serta ketiadaan regulasi daerah menyebabkan perpustakaan tidak menjadi prioritas anggaran. Tingkat kemiskinan yang tinggi memperburuk situasi ini.


7. Tantangan Konektivitas dan Digitalisasi

Transformasi digital perpustakaan memiliki potensi besar, namun terkendala oleh keterbatasan infrastruktur internet. Banyak wilayah pedalaman belum memiliki akses sinyal, sehingga solusi offline tetap diperlukan.


Referensi:

  • Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. (2024). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Tengah Tahun 2024.
  • Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. (2024). Profil Kemiskinan Provinsi Papua Tengah Maret 2024.
  • GoodStats Data. (2024). Data perpustakaan terakreditasi.
  • Kementerian Komunikasi dan Digital RI. (2025). Transformasi digital di Papua.
  • Perpustakaan Nasional RI. (2023–2025). Data literasi dan perpustakaan.
 

Refleksi 21 Tahun hadirnya Fakultas Teknik Uncen di Papua

Logo Fakultas Teknik Uncen

Fakultas Teknik hadir dalam gema pengembangan Sumber daya manusia Papua dalam bidang keteknikan. Papua dengan berbagai Ketersediaan Potensi sumber daya alam melimpah kehadiran para insyinyur asal Papua menjadi korelasi yang relevan. Visi Fakultas teknik "Unggul dalam pembelajaran dan teknologi serta menjadi Mitra Masyarakat dalam pemabagunan di tahun 2030" adalah sebuah ikhtiar Fakultas secara kolektif, artinya adalah Fakultas teknik secara akademika mempersiapan, mengarahkan dan mendidik generasi Papua dalam menyambut Teknologi terbaru di era ini. Disamping itu bersama dengan masyarakat mengembangkan teknologi tepat guna untuk mendongkrak ekonomi kerakyatan yang sedang melaju di Papua.

Fakultas Teknik Uncen yang berusia belia ini hingga tahun 2022 telah mendirikan 5 jurusan yang diantaranya, Pertambangan, Teknik Sipil, Geologi dan Planologi, elektro dan Teknik Mesin. Kualitas kelima jurusan ini tentunya berbeda-beda bergantung pada kualitas dan mutu para Pengajar, Admistrator dan ketersediaan Fasilitas Teknologi penujang yang upgrade dengan Teknologi era 5.0. Konsentrasi dan Fokus dalam membenahi organ – organ ini sangatlah penting. Untuk itu, tentu dalam perkembangannya Fakultas Teknik telah melewati berbagai rintangan. Di depan masih menunggu tantangan yang lebih menantang demi mengejar visi Kampus Merdeka serta Nawacita ala Presiden Jolowi. Kekurangan dari berbagai aspek tentunya menjadi bahan refleksi kolektif dalam menyelesaikannya secara parsial sambil mempelajarinya.

Peran dalam Pengembangan dan Pembangunan Tanah Papua tentunnya menjadi tanggung jawab semua Orang Papua yang hidup diatas tanah ini. Fakultas dan Civitasnya juga mengambil peran disitu. Di usia ke 21 tahun kami berefleksi untuk itu.

Jika Fakultas Teknik Uncen adalah remaja belia, maka dia selayaknya berada di bangku perkuliahan yang butuh perbaikan dan revitalisasi dalam berbagai aspekt.

Jiwa Kemahasiswaan sesorang digodok disini. Idealnya, karakter mahasiswa yang baik adalah mereka memiliki konsistensi, tanggung jawab dan rasa ingin tahu yang tinggi. Kompentensi kampus menuntut setiap mahasiswa agar mampu menyelesaikan sejumlah SKS yang membawa mereka kepada sebuah Kelulusan. Setiap pundi - pundi SKS dikumpulkannya dari berbagai kegiatan formal maupun non formal yang diformal demi tercapainya target SKS yang ada. Itulah perjuangan dan dinamika hidup seorang Mahasiswa, yang adalah harapan bangsa dan negara, tidak ada karpet merah yang selalu diletakan di atas aspal ataupun beton, diatas tanah lapang kosong pun jadi untuk mencapai cita-cita yang diidam-idamkan.

Semoga di HUT Fakultas Teknik Uncen yang ke 21 tahun ini, kita, civitas Fakultas menjadi manusia yang memahami tugas dan tangungg jawab secara komprehensif. Tuhan memberkati kita semua.

 

Kelahiran mistik Degeumauukago

Pagi itu ,mentari begitu indah di ufuk timur. Suara burung-burung yang merdu membangunan tidur nyenyak para penduduk di sebuah dusun kecil, Kigiya, di pinggiran danau Tigi. Tigi merupakan suatu wilayah yang dikuasai dan didiami oleh suku mee yang memadati sepanjang pengunungan leher burung tanah Papua. Kompleks Kigiya yang rimbun & sejuk karena pohon-pohon yang menjulang tinggi yang ditanam oleh nenek moyng mereka memanjang sepanjang jalan dan menjadi batas-batas bidang tanah antara satu keluarga atau marga dengan yang lain. Satu persatu warga yang menempati Kewita/Emaa (rumah adat orang mee) bangun dari tidur dan memulai aktifitas juga rutinas mereka dengan Doa. Menurut pengalaman penulis yang tinggal di Kewita (Rumah adat perempuan) Doa pagi yang sering dilantungkan seorang ibu di dalam rumah itu dan berdurasi cukup lama dalam kekyusukkan.

Rumah adat yang dibuat dengan arsitektur tradisional mee ini ditempati oleh 2 (dua) orang ibu dan 4 (empat) orang anak. Kedua ibu, Lusia dan Yuliana ukago, keduanya ialah saudara kandung yang dinikahi oleh seorang pria, Degamoye ukago yang adalah kepala rumah tangganya. Lusia berprofesi sebagai seorang nelayan dan petani, yang hari-harinya lebih banyak dihabiskan di Danau dan Kebun. Sedangkan Ibu Yuliana agak berbeda dengan Lusia, dia seorang petani yang dari pagi hingga sore dihabiskan di Kebun. Sedang suaminya adalah seorang yang sederhana, penuh karisma dan pekerja keras yang cukup piwai dalam hal berburu dan berkebun.

Ilutrasi Bayi Perempuan, sumber :https://www.pinterest.de/pin/680254718709855261/

Anak-anak mereka adalah Thobias, Katarina dan Kaitanus yang merupakan anak dari ibu Yulina. Sedangkan Ibu Lusia hanya memiliki seorang anak Perempuan Marta. Kehidupan yang bergitu primitif menjadikan mereka keluarga yang selalu bekerja keras. Motto hidup mereka adalah „hidup untuk kerja dan kerja untuk hidup“.

Keluarga Degamoye adalah keluarga yang cukup demokratis, mereka memutuskan hal-hal yang essensial bersama, sehingga konflik dalam keluarga bisa diminimalisir frekuensinya. misalnya dalam hal membagi tugas mengurus kebun dan ternak. Dalam budaya suku mee, mengurus kebun dan ternak adalah pekerjaan bersama, oleh karena itu pekerjaannya harus dibagi rata kepada semua anggota keluarga.

Degamoye ukago, ayahanda dari Marta ialah sesorang yang hidup dengan multi talenta dan cukup sederhana dalam hidup. Sudah menjadi sebuah kebiasaan dalam tradisi hidup orang mee bahwa semua kaum muda laki-laki sejak masih belia, orang tua wajib mengasah softskill anak, misalnya membuat anak panah, membuat perahu, membuat pagar, berkebun, memabngun rumah, strategi perang dan berburu. Softskill lain yaitu memelihara ternak, misalnya babi hutan (yaa) ataupun ayam (bedoo).

Bagi anak muda dalam kehidupan tradisional suku mee berburu adalah sebuah talenta yang harus diasah. Dia harus diasah langsung dari hutan tempat di mana dia dapat mendemostrasikan kemampuannya, hutan yang jauh dari pemukiman warga dan di gunung yang cukup tinggi biasanya menjadi tempat cukup yang ideal untuk berlatih ketangkasan itu. Sebagaimana filosofi orang Mee tentang hutan, bahwa hutan adalah Ibu. Mereka sangat menghargai hutan, tanah dan air dan segala isinya. Bagi mereka alam dapat memberikan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Untuk itu inisiasi dalam bentuk ritualpun tak pelak sering dibuat sebagai tanda terimaksih mereka kepada alam semesta.

Degamoye Ukago sudah sejak belianya membekali diri dengan berbagai kemampuan dan ketangkasan misalnya berburu, berkebun dan berternak. Dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya itu, harapan orang tua Degemoye kala dia kecil adalah dia dapat menghidupi istri dan anaknya kelak. Kehidupannya yang cukup Makmur dan kesederhanaan keluarganya membuat dia cukup puas dengan pencapaian yang dia lewati dan capai.

Dalam budaya modern ketika seorang anak dilahirkan ke dunia dan menjadi anggota baru, maka sudah menjadi keharusan agar acara syukuran dibuat sebagai tanda ucapan syukur kepada sang Kreator ulung Alam Semesta, Tuhan/Allah Yang Maha Besar. Begitu pula juga dalam tradisi kehidupan orang Mee, inisiasi ucapan syukur itu disebut dengan duwapaga/yoka you. Duwapaga adalah istilah yang sering digunakan di daerah seputaran danau Tigi dan Paniai. Sedangkan Yoka youu adalah istilah/kutipan bahasa Mee dari acara syukuran kelahiran anak yang digunakan di wilayah Dogiyai.

Inisiasi ini juga yang sering dilakukan oleh keluarga Degamoye ketika anaknya lahir. Dalam kelahiran anak-anaknya, Degamoye oleh kedua istrinya selalu dilalui dengan peritiwa-peritiwa mistis.

Sebagai seorang pemburu kuskus (Woda), dia selalu berburu kuskus untuk dihidangkan dalam acara pengucapakan syukur anak-anaknya. Dalam hal ini Marta menjadi contohnya, betapa mistinya prosesi lahiran yang dialami oleh Lusia, Ibu dari Marta.

Dua hari sebelum Marta dilahirkan oleh ibunya Lusia, Degamoye bersiap untuk melakukan perjalanan kepegunungan Wikitai untuk berburu. Dia selalu solo/sendiri ketika berburu. Baginya berburu sendiri lebih menyenangkan, dibanding berjalan bersama kolleganya yang lain.

Sore itu, dia datang ke rumah perempuan (kewita) untuk meminta istrinya Lusia dan Yuliana mempersiapkan bekal untuk dimakan dalam perjalan kesana dan untuk seminggu di sana. Dia bercakap,

„selamat malam mama, mama besok saya mau ke wikitai untuk berburu, jadi tolong petatas/ubi (nota) dipersiapakan sesegera mungkin“ lanjutnya,

"esok pagi jam 05.00 saya akan datang ambil”

Lalu Lusia dan yuliana merespon,

“iya besok pagi ambil Bapa”

Benar seperti yang dikatanya itu, dia tidur lebih awal karena dia tahu bahwa besok dia harus melakukan perjalanan yang panjang melewati berbagai gunung dan bukit. Pagi itu dia bangun kira-kira jam 04.00 dan mempersiapakn diri untuk melakukan perjalanan. Anjing berburunya juga diikutsertakan dalam perjalannya kesana.

Pagi jam 05.00 dia tiba di depan pintu rumah kewita (rumah perempuan), dia menyahut sambai mengetok pintu,

’ took took,,,selamat pagi, Mama, mama”

tak satupun suara yang terdengar dari dalam kewita, dua menit berselang suara memantul keluar,

“Bapaa, iyoo sabar ee mama ambil noken dulu”

ternyata mama Yuliana sudah mengetahui apa yang dipinta oleh si Bapa, Ukago degamoye. Mama Yuliana membukakan pintu

”Bapa, ini ubinya, Noken ini untuk makan seminggu di sana dan yang masak ini untuk bekal perjalanan”.

Ternyata kedua istrinya mempersiakan bekal dalam dua noken yang berbeda.

Sudah menjadi tradisi dalam budaya suku mee, ketika kepala keluarga ingin meakukan perjalan jauh dalam rangka bisnis atapun kepentingan lain. Istrinya harus mempersiapkan bekal yang ada untuk digunakan dalam perjalannya.

perjalan hari itu dimulai tepat sesudah kedua noken yang berisi nota itu berada di tangannya. Perjalannya yang cukup melelahkan itu akhirnya berakhir sesudah satu hari satu malam perjalan hingga ke goa (bahasa mee: Biyoo) milik pribadinya sendiri. Dahulu kala Goa adalah tempat yang paling nyaman untuk meletakan kepala sesudah seharian memasang jerat dan melakukan aktivitas perburuan.

Dalam masyarakat mee, mereka percaya bahwa mereka yang sering melakukan pemburuan akan bersahabat dengan para penunggu-penunggu atau penduduk mistik yang hidup di area perburuan mereka, bahkan dengan makluk gaib yang menurut mereka adalah pemilik kuskus yang mendiami daerah itu. Jadi, keberuntungan mereka berburu juga terkadang tergantung dari seberapa kuat kedekatan mereka dengan para penunggu di area pemburuan yang mereka tempati.

Degamoye sendiri sudah begitu cukup dekat dengan Wodaniya (setan Kuskus), begitulah sebutan yang mereka sematkan bagi penunggu kuskus di hutan itu. Dalam proses pemburuan mereka sangat sering sekali berkomunikasi dengan Wodaniya tadi. Misalnya mereka sedang mamasang jerat kuskus, mereka akan disapa oleh si penunggu hutan itu dari arah yang tidak mereka tahu. Berikut ini adalah contoh kasus yang dialami oleh Degamoye ukago pada detik-detik kelahiran anaknya Marta yang dilahirkan di Kigiya-Diyai.

Pagi itu dia bangun pagi sekali dan mempersiapkan sarapan beserta bekal makan dalam aktivitas berburunya. Seusai sarapan pagi dia mulai melakukan aktifitas pemburuan kuskus dengan memasang berbagai jenis jerat di pohon maupun di permukaan tanah. Karena kuskus sering atau banyak ditemukan di pepohonan karena mereka adalah pemakan dedaunan dan biji-bijian. Ketika sedang asyik dengan memasang jerat, suara yang abstrak sumbernya tiba-tiba mencul dari arah yang tidak bisa diduga, suara ini manyahut katanya,

“Degamoyee,,, Degamoyee”

degamoye merespon ”yaa bagaimna ? kamu siapa “

suara misterius ini membalas

“saya yang selalu bersamamu dan datang ke rumahmu (maksudnya goa tempat dia menginap)”

Degamoye memang sering kedatangan tamu tak diundang yang tak terduka yang memang bisa dikatakan orang misterius. Tamu tersebut kehadirannya hanya sebatas suara. Tapi setiap kali dia datang berburu dan menginap di Goa, mereka sering bercakap-cakap layaknya tamu yang sudah sejak lama saling mengenal.

Tamu misterius itu berucap katanya „Dega waee anakmu hari ini lahir“.

Degamoye penasaran bertanya, “anak perempuana atau laki-laki”,

pertanyaan ketidaktahuan ini adalah pertanyaan bahagianya. Si misterius menjawab,

“anakmu yang lahir adalah anak Perempuan, jadi nanti b’ri dia nama untuknya DEGEUMAUUKAGO (bahasa mee :Si putih Ukago)”.

Tanya Degamoye kembali,

„mengapa nama itu harus diberikan kepada anak Perempuanku ?“ lalu Wodauniya menjawab„

karena anak perempuamu berkulit putih berseri“ katanya.

Degamoye menjawab „ baik, akan saya sematkan nama itu untuknya“.

Spontan suara tadi pun menghilang dalam lebatnya hutan pegunungan Wikitai. Sesudah bermalam tiga hari di sana hasil buruannya mencapai empat noken penuh.

Akhirnya ia memutuskan untuk membuat Bakar batu bagi satu noken agar dapat disantap langsung oleh istri dan anaknya sesampainya di rumah. Sedangkan tiga noken lainya dibawa pulang untuk dibuatkan Bakar Batu atau Barapen pada acara syukuran akan perempuan yang baru lahir.

Dia pun mulai bergegas di pagi hari dari Goa di pegunungan wikitai, akhirnya pada sore hari dia tiba di Kigiya, di rumahnya. Ketika dia menyampari rumah kewita dari jauh dia melihat asap rumah kewita meninggi. Penjalaan yang cukup Panjang, namun dia diselimuti kebahagiaan dan kegembiraan. Langkah kakinya pun menjanjaki pintu depan Kewita. Ketika di tengonya kedalam ternyata, sanak saudara dan keluarga lain sudah memenuhi rumah kewita. Mereka, ada yang datang dari jauh dengan membawa datang makanan dan pernak-pernik lain sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya Marta kecil.

Capeknya Degamoye pun hilang seketika ketika melihat ada bayi kecil di samping mama Lusia, tanpa banyak bertanya dia berucap

“Adow ini siapa ini?”

sambil ´tertawa terbahak-bahak penuh gembira. Tantapanya tak sedikpun dia arahkan ketempat lain. Dia mengamati si mungil yang ada di tangannya dan memberi nama secara spontan katanya,

„sayang anaku DEGEMAU UKAGOUMAU selamat datang di keluarga kami“.

Lalu Mama lusia pun terkejut dengan nama itu, dan langsung bertanya ke Degamoye

“Bapa, siapa yang menginspirasi bapa untuk beri nama itu”.

Degamoye merespon pertanyaan itu katanya

“hari itu ketika Mama melahirkan si mungil ini saya diberitahukan nama itu oleh Wodaniya”.

Mama Lusia pun tersenyum karena, kejadian itu bukan terjadi untuk yang pertama kali. Kejadian yang sama juga sudah pernah terjadi sebelumnya, pada kelahiran dari saudara-saudari kandung Marta yang lain.

Kebahagian merekan pun mereka rayakan dengan membua acara syukuran dengan Kuskus, hasil buruan yang dibawakan oleh Degamoye.

Walaupun Degamoye yang adalah sesorang yang hidupnya penuh keterikatan dengan alam atau punya kedektan dengan dunia mistik, dia selalu memberi masukan kepada istrinya untuk anakya harus diberkati oleh Pastor Katolik setempat dan dipermandikan secara katolik. Ini dikarenakan. Pengaruh belanda melalu para misionaris ketika itu sudah merambah hingga daerah Meewoodide atau yang pada zaman belanda di sebut dengan daerah keresidenan Enarotali, di mana di Diyai sejak 20an tahunan telah didirikan sebuah gereja katolik permanen yang di namai Paroki segala orang kudus Diyai.

Keesokan pagi Mama lusia begerak ke Pastoran Diyai di bukit bitang Pagoya untuk mendapat berkat dari Pastor setempat dan memberi tahu bahwa pada hari minggu mendatang si mungil harus dipermandikan dalam tradisi gereja Katolik Roma.

Sesampainya di pastoran mama Lusia langsung bertemu dengan Pastor Tom Tetero, seorang misionaris OFM dari belanda yang telah tiba di papua dan memulai karya pelayanannya sejak 1939 di Papua. Dia menerima Mama Lusia dan si Mungil. Dia bertanya maksud dan tujuan kedatangan mereka dalam bahasa daerah mee

„mama Lusia selamat siang, bagaimana ada yang saya bisa bantu k?“ tandasnya.

“ benar pastor saya datang ini mau minta berkat buat saya punya anak perempuan ini, dan sekaligus mau tanya kapan anak ini bisa dipermandikan?” jawabanya.

Lalu pastor mengatakan pastor Tom merespon

“ Lalu mama sudah kasih nama dia k belum ?” tanya pastor ke Mama lusia agar Namanya disebutkan dalam doa berkatnya.

Mama Lusia menjawab “ belum Pastor”. Kemudian pastor meminta mama Lusia “kalau begitu kita carikan namnya dulu ya ?”.

Pastor Tom berpikir sejenak mengusulkan untuk memberi Nama Marta

„Mama waee saya kasih nama Marta boleh k ?“

karena Mama Lusia tidak begitu familiar dengan nama-nama Modern yang ada dalam tradisi Katolik, Mama Lusia mengiyakan nama itu katanya

“baik Pastor”.

Lalu pastor memulai inisiasi pemberkatan dengan nama yang sudah disetujui oleh Pastor dan Mama Lusia.

“oke Mama mari saya berkat dia dulu” lanjut si pastor

“ atas nama Bapa dan putra dan Rohkudus, Tuhan terimakasih karena engkau telah menghadirkan Marta kedalam keluarga Lusia dan Degamoye untuk dijaga dan dididik. Tuhan bantu dia dalam perkembangan dan pertumbungan kedepan. Agar semua yang dibuatnya menjadi kesenangamu. Dan berikan rahmat kesabaran dan kekuatan kepada kedua orang tua yang engkau percayakan untuk membesarkan anak ini amin“ .

lalu hining sejenak dan Pastor Tom melanjutkan „ Marta, Aku memberkati kamu dalam nama Bapa dan Putra dan Rohkudus amin“.

Diakhiri dengan tanda salib dan prosesi dan doa pemberkatan anak ini pun diusaikan di situ.

Sebagai Derma/Persembahan kala itu uang tidak sebanyak sekarang, orang hanya mempersembahkan makan yang didapatkan dari hasil kebun. Jadi Mama Lusia juga membawa serta Kuskus serta hasil kebun sebagai persembahan kepada Tuhan yang telah menerima Marta, si mungil ini sebagai anggota kerajaan Allah. Persembahan ini diberikan kepada Pastor Tom.

Marta kecil kemudian pada hari minggu berikut d berkati dan dipermandikan oleh Pastor Tom dan resmi menjadi anggota Gereja Katolik.

>>>Cerita ini diangkat dari Cerita harian Ibu<<<

~~~§ Selesai §~~~

 
 
Support : SAVE THE ENVIROMENT OF WEST PAPUA | INFO PAPUA | KNPB NEWS
Copyright © 2011. PAPUA TO OUR WORLD - All Rights Reserved
Template Created by Mr.YOGIX FWP Published by AGUSTINUS GIYAI
Proudly powered by Blogger